INILAH.COM, Jakarta Saham BUMI, Kamis (18/3) akan melanjutkan penguatan. Derasnya capital inflow menjadi sentimen positif, Kisruh pajak pun tak jadi hambatan. Strong buy BUMI! Ukie Jaya Mahendra, Direktur Paramitra Alfa Securities mengatakan, potensi penguatan saham
BUMI hari ini masih dipicu besarnya
capital inflow menyusul The Fed yang tetap mempertahankan suku bunga acuannya pada level rendah 0-0,25%.
Karena itu, kisruh pajak yang selama ini diyakini mengghambat pergerakan saham sejuta umat ini, menurutnya tak lagi jadi hambatan.
BUMI tetap akan mengarah ke level
resistance Rp2.700 dan Rp2.500 sebagai level
support-nya, katanya kepada Ahmad Munjin dari
INILAH.COM, di Jakarta.
Pada perdagangan Rabu (17/3), saham BUMI ditutup menguat Rp50 (2%) menjadi Rp2.550 dengan intraday Rp2.575 dan Rp2.500. Volume transaksi mencapai 141,9 juta unit saham senilai Rp360,4 miliar dan frekuensi 4.137 kali. Berikut wawancara lengkapnya.
Bagaimana Anda memperkirakan pergerakan saham BUMI hari ini? Saya yakin masih potensial menguat. Salah satu didukung positifnya sentimen market. Hal ini masih pengaruh positif dari The Fed yang tetap mempertahankan suku bunga acuannya pada level rendah 0-0,25%. Di sisi lain,
capital inflow masih deras. Apalagi, kondisi makro ekonomi Indonesia sangat kondusif bagi invstor. Di antaranya, laju pertumbuhan yang positif dan terkendalinya inflasi.
Akan bergerak di kisaran berapa? BUMI akan mengarah ke level
resistance Rp2.700 dan Rp2.500 sebagai level
support-nya. BUMI hari ini akan memasuki level Rp2.600. Tapi, sepanjang perdagangan, saham ini bisa menyentuh level Rp2.700. Sebab,
support kuatnya sudah tercipta di level Rp2.500 akibat positifnya sentimen market. Pada saat yang sama, positifnya sentimen market diiringi dengan derasnya
capital inflow. Pada perdagangan kemarin pun, arus dana masuk sangat besar mencapai Rp1 triliun dari broker asing. Saya pikir itu
net buy.
Tapi memang, BUMI kemarin tidak terlalu banyak bergerak. Sebab, pembelian asing lebih banyak terjadi di saham seperti PT Astra Internasional (
ASII), PT Bank Rakyat Indonesia (
BBRI), PT Perusahaan Gas Negara (
PGAS), PT Bank Central Asia (
BBCA) dan PT Bank Danamon (
BDMN).
Kenapa asing tidak langsung memilih BUMI? Ya memang asing belum fokus pada BUMI. Sebab, merela lebih mengutamakan saham
bluechips lain terlebih dahulu. Asing mendahulukan saham-saham lain yang market kapitalisasinya besar. Sektor perbankan menjadi
trigger. Begitu juga dengan saham-saham yang membagikan dividen seperti PGAS, PT Telkom (
TLKM), PT International Nickel Indonesia (
INCO), dan PT Aneka Tambang (
ANTM).
Kapan BUMI akan bergerak sesuai kencangnya pergerakan IHSG? BUMI akan naik kencang, pada saat saham-saham lain sudah mengalami
overbought. Namun, saya tidak setuju atas anggapan, tidak pesatnya penguatan BUMI saat ini karena faktor persoalan pajak perseroan. Pajak menurut saya tidak jadi hambatan. Sebab, fundametal emiten ini sangat positif. Karena itu, saya yakin, saham BUMI ini masih akan menguat secara bertahap. Sebab, di lain pihak, saham ini juga mendapat topangan dari harga minyak mentah dunia yang sangat tinggi di level US$82 per barel

.
Lalu, aliran dana asing pun dari hasil
roadshow pihak manajemen ke AS, Eropa, Jepang, juga akan terus memperkuat pergerakan saham BUMI. Pasar juga saat ini mengantisipasi laporan keuangan BUMI untuk
full year 2009.
Lantas, apa rekomendasi Anda? Untuk
mid-long term saya rekomendasikan
strong buy. Kalau untuk
trading,
buy on weakness saja. [jin/ast]