INILAH.COM, Jakarta - Menkeu Sri Mulyani menyatakan perubahan secara besar-besaran tersebut bahkan menimbulkan rasa sakit dalam jangka pendek.
"Reformasi dalam jangka pendek menimbulkan rasa sakit. Tapi itu terbayar dengan hasilnya dimasa mendatang, no pain no gain," ujarnya dalam acar seminar 'Economic & Political Outlook' di Pasific Place, Jakarta, Kamis (18/3).
Reformasi, kata Menkeu, bisa diibaratkan seperti seseorang yang melakukan program olahraga, di mana untuk mendapatkan bentuk tubuh ideal sering kali rasa malas menyerang saat ingin melakukan olah raga. "Saat godaan itu datang dan melakukan hal yang enak, pasti membuat penyesalan," ucapnya.
Dikatakannya, program reformasi birokrasi yang ditetapkan di Kementrian Keuangan sedikit banyak telah membuahkan hasil.
Dengan setengah bercanda, ia mengatakan saat ini kebanyakan pegawainya tidak lagi meminta uang pelicin, namun mereka masih mengalami dilema dengan hal itu. "Sekarang sudah tidak minta sogokan lagi, tapi kalau ketahuan mereka mengaku, merasa berat melihat amplop tergeletak di meja," ucapnya yang disambut tawa para peserta seminar.
Selanjutnya, Menkeu menjelaskan, saat ini masih terdapat 11 Kementrian/Lembaga yang harus direformasi. Beberapa di antaranya adalah polisi dan kejaksaan. "Pada MA dan BPK telah diterapkan reformasi. Reward dan punishment bisa diterapkan agar tingkah laku lebih reliabel," tegasnya. [hid]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !