INILAH.COM, Jakarta - SBY menerima sejumlah tokoh Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) di Istana, Kamis (18/3). SBY mengaku prihatin melihat demokrasi saat ini menjadi mahal.
"Kita memiliki kewajiban moral untuk jangan sampai masa depan berada dalam wilayah yang salah. Jangan sampai generasi mendatang mendapat warisan dari perilaku politik dan demokrasi yang sebenarnya tidak kita inginkan," kata Presiden SBY saat menerima ICMI di kantor presiden, Jakarta, Kamis (18/3).
Menurut SBY, bangsa Indonesia patut bersyukur, sebab sejak reformasi demokrasi makin mekar, HAM makin dilindungi, partisipasi rakyat makin meningkat tercermin dari pemilu yang makin demokratis dan kehidupan pers yang semakin bebas. Namun khusus dibidang politik dan pemilu ini disamping ada good news ada juga yang menjadi perilaku yang memprihatinkan dari kalangan masyarakat luas.
"Satu keprihatinan dan kecemasan kalau politik dan demokrasi kita menjadi sesuatu yang amat mahal. Ini bukan jadi rahasia lagi kalau orang mencemaskan pilkada saja biayanya sangat tinggi. Apakah pemilihan bupati, walikota dan gubernur," ujarnya.
Kalau ini diteruskan, tutur SBY, dikhawatirkan bukan hanya mahal politik itu tapi juga menyimpang dari hakekat bagaimana rakyat memilih pemimpinnya.
"Ini menyangkut moral politik, ini menyangkut budaya politik dan menyangkut etika politik. Ini masalah yang sangat mendasar, tapi marilah kita memberanikan diri mengambil tangungjawab," pungkasnya. [win/mut]