inovasi portal berita
Jumat, 10 Februari 2012 Follow: Facebook twitter Dollar Kurs BI: 1 US Dollar = Rp.8,993.00   Mobile Mobile   Newsletter Newsletter   RSS RSS

Fahri: PKS Musuh Politik Penguasa

Headline
Fahri Hamzah
Oleh: Kawiyan
Kamis, 18 Maret 2010 | 13:12 WIB
INILAH.COM, Jakarta - Sejumlah kasus hukum yang menyangkut sejumlah politisi pascarekomendasi DPR mengenai Bank Century diungkap. PKS menilai, penguasa saat ini tengah memperdaya birokrasi.

Wasekjen PKS Fahri Hamzah mengatakan, selain berupa politik serangan balik, upaya melemahkan lawan politik juga dilakukan dengan menarik kader partai oposisi ke dalam pemerintahan. Saat ini dikabarkan PDIP akan merapat ke dalam pemerintahan SBY. Fahri mengaku mendengar isu tersebut tetapi ia menjamin PKS tidak ditawari apapun jabatan di pemerintahan.

"Mungkin PKS sudah jelas dianggap sebagai musuh politik penguasa," ungkapnya kepada INILAH.COM di Jakarta, Kamis (18/3).

Kasus yang bermunculan pascakasus Century itu antara lain, kasus dugaan suap berkaitan dengan pemilihan deputi senior Gubernur Bank Indonesia Miranda S Gultom yang menimpa 19 anggota DPR dari PDIP. Ada juga pengungkapan dugaan korupsi pengadaan mesin jahit dan kain sarung yang menimpa politisi senior dan mantan Mensos Bachtiar Chamsyah.

Kasus dugaan tunggakan pajak yang menyangkut bos Golkar Aburizal Bakrie juga dimunculkan bersamaan dengan ramainya pembicaraan kasus bailout Bank Century. Pengungkapan kasus-kasus hukum juga menerpa partai oposisi. Kasus pembunuhan aktivis Munir yang melibatkan kader Partai Gerindra Muchdie PR juga diangkat kembali. Kasus hukum berkaitan dengan penghilangan orang yang menerpa elit Partai Hanura juga dihidupkan lagi.

Wakil Sekjen PKS Fahri Hamzah menilai, tekanan politik tersebut sebagai hal biasa dalam politik. Fahri mengangap permainan tersebut sebagai the nature of political game. Kalau penguasa dituduh melakukan sebuah kesalahan, ia akan balik mencari kesalahan lawan.

"Jadi, sebagai politisi, kita nggak boleh cengeng," ujar Fahri.

Namun, yang memprihatinkan Fahri bukan hanya politik menyerang balik itu. Ia melihat ada indikasi kuat, penguasa saat ini menggunakan birokrasi atau lembaga-lembaga negara untuk kepentingan politik mempertahankan kekuasaannya.

Misalnya, pejabat kantor pajak diminta membocorkan rahasia negara yang dapat menjatuhkan citra lawan politik. Selain itu, lembaga-lembaga negara lainnya juga ditekan untuk kepentingan politik penguasa.

"Inilah yang lebih memprihatinkan kita, lembaga-lembaga negara atau pejabat negara diperdayakan untuk kepentingan kekuasaan," tambah Fahri.

Akibat perilaku seperti ini, sambungnya, banyak lembaga negara atau pejabat negara yang tidak independen. "Sangat disayangkan kalau pejabat negara atau pimpinan lembaga negara hanya menjadi alat kekuasaan dengan imbalan jabatan yang lebih tinggi," kata Fahri dengan nada tinggi. [mut]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !
7 Komentar
azzam @ Minggu, 21 Maret 2010 | 11:31 WIB
Kritik buat kami adalah obat sepahit apapun obat itu... Tapi jika itu racun kami musnahkan dn buang jauh-jauh. Kritik yang tidak membangun hanya hujatan adalah diantaranya. Bangsa ini makin terpuruk. Sudahkah kita buat baik untuk sekitar. Maju Terus Indonesiaku... Agar Adil dan sejahtera.
fathurnaufal @ Sabtu, 20 Maret 2010 | 19:58 WIB
maju trus BANG FAHRI, Rakyat yg masih ada Moral medukungmu.. Alloh akan melindungi orang yg selalu Istiqomah.
Abah @ Jumat, 19 Maret 2010 | 17:22 WIB
Fahri enggak usah banyak bacot, kalau udah enggak senang sebaik nya cepat2 keluar dari koalisi. Kasihan PKS, maksud hati mau menjatuhkan Sri Mulyani & Boediono.... Eeeh... enggak tahu nya malahan kader nya si Misbakhun yg bermasalah.......
abi adzkia @ Jumat, 19 Maret 2010 | 13:37 WIB
inilah awal keruskan negeri ini, smua pada cari kambing hitam bila disalahkan
INGES @ Jumat, 19 Maret 2010 | 11:18 WIB
kasihan kau PKS hujatan...hujatan..dan hujatan...tapi yakinlah Allah yg sudah atur semuanya...tinggal usaha antum semua...yg CUMA BISA MENGKRITIK seandainya mrk ada di parlemen paling2 cuma bisa terima duit,males kerja apalagi berpikir untuk ummat...ck..ck..ck...
dennio @ Kamis, 18 Maret 2010 | 18:53 WIB
aduhh fahri lagi..yang lain donk.. politisi kesiangan..
DODOL @ Kamis, 18 Maret 2010 | 14:52 WIB
Sudahlah ga usah curhat. Kan curhat dilarang. Sikap PKS dalam masalah century punya konsekwensi, maka terimalah konsekwensi itu, termasuk konsekwensi bahwa ternyata apa yang dituduhkan kepada Boed dan SMI ternyata tidak terbukti menurut hukum. Tinggal anda yang gigit jari. Berharap dapat durian runtuh dengan lengsernya Boediono, tapi yang terjadi lengsernya wakil2 PKS di kabinet.......
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA TERKINI
BERITA POPULER
RSS| Layanan Mobile| Tentang Kami| Disclaimer| Kontak Kami| Karir| Newsletter
Copyright 2008 - 2012 inilah.com, All rights reserved inilah.com.