Minggu, 27 Mei 2012 | 18:51 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Rekomendasi Analis
Liriklah Saham Perkebunan CPO
Headline
inilah.com/Wirasatria
Oleh: Asteria
web - Kamis, 18 Maret 2010 | 13:29 WIB
INILAH.COM, Jakarta Ekspektasi peningkatan kinerja tahun ini, membawa sentimen positif terhadap saham sektor perkebunan. Saham mana saja yang masih layak diakumulasi?
Analis Danareksa Bonny Budi Setiawan memberi rekomendasi beli untuk PT Astra Argo Lestari (AALI ), meskipun dengan menurunkan target harga menjadi Rp 28.000 dari sebelumnya Rp 28.500. Target harga ini didasarkan pada Price Earning (PE) 2010 sebesar 16,5 kali serta mengimplikasikan EV/ha sebesar US$ 20,933, ujarnya dalam riset Kamis (18/3).
Penilaian positif atas AALI didasarkan kuatnya neraca dan besarnya kebun milik perseroan. Kemudian adanya skala ekonomis, serta manajemen AALI yang ahli di bidangnya. Menurut Bonny, estimasi earning per share (EPS) untuk 2010-2011 diturunkan 2-3% untuk menggambarkan kinerja 2009 dan biaya operasional yang tinggi (terutama biaya tenaga kerja).
Produksi tandan buah segar (FFB) dan CPO AALI pada Januari-Februari turun secara tahunan 5%. Penurunan produksi disebabkan rendahnya intensitas hujan serta stress pada tanaman, terlihat di wilayah Sumatra dan Sulawesi terutama pada plasma. Namun, produksi dua bulan awal 2010 ini sudah mencapai 12% dari estimasi perusahaan dan estimasi kami tahun ini, katanya.
AALI memperkirakan tahun ini tanaman baru akan turun menjadi di bawah 10 ribu ha, ketimbang estimasi sebelumnya di 12-13 ribu hektar. Hal ini karena perseroan akan memaksimalkan penggunaan lahan yang ada melalui penanaman kembali. Sementara itu, Bonny memperkirakan EBITDA Margin akan tetap kokoh di 43%,Dengan didukung oleh tingginya harga CPO, ucapnya.
Sementara analis E-Trading Securities Isfhan Helmy Arsad merekomendasikan beli untuk saham PT London Sumatra (LSIP ). Ia masih optimistis kinerja LSIP akan membaik seiring proyeksi kenaikan harga jual CPO dan peningkatan produksi tahun ini. Kami rekomendasikan beli LSIP dengan target harga Rp 12.000 per saham, ujarnya.
Rapor LSIP sepanjang 2009 memerah, dimana pendapatan perseroan mencapai Rp3,19 triliun, anjlok 16,8% dan laba bersih melemah 23,7% menjadi Rp707,5 miliar. Namun, kinerja emiten perkebunan ini melampaui perkiraan para analis, yang menargetkan laba di angka Rp659,87 miliar, lebih rendah 7%.
Penurunan kinerja LSIP disebabkan berbagai faktor, seperti merosotnya harga minyak sawit mentah (CPO), inti kelapa sawit (kernel) dan karet. Pendapatan LSIP makin tertekan dengan volume penjualan bibit kelapa sawit SumBio yang terhambat.
Di sisi lain, usaha LSIP memperbesar penjualan dengan meningkatkan volume penjualan ternyata belum berhasil. Peningkatan produksi CPO sebesar 10,5% menjadi 377.500 ton, serta kenaikan produksi tandan buah segar inti dari hasil produktivitas dan penambahan areal, hanya mampu menaikkan volume penjualan LSIP sebesar 7,3%. Padahal, penjualan produk kelapa sawit ini mengkontribusi 85% dari total pendapatan LSIP.
Isfhan mengakui, penjualan LSIP tahun lalu jauh di atas estimasi. Namun, ia masih optimistis atas pemulihan kinerja ke depan. Dengan rata-rata harga jual CPO tahun ini sebesar US$ 850 per ton, produksi LSIP akan mencapai 410 ribu ton tahun ini. Jika prediksi ini tepat, penjualan LSIP akan tumbuh hingga Rp3,5 triliun dengan laba bersih mencapai Rp950 miliar, pungkasnya.
Pada perdagangan Kamis (18/3) sesi siang, saham AALI dan LSIP terpantau stagnan di level masing-masing Rp25.000 dan Rp9.300 per lembar. Sedangkan saham CPO lain seperti PT Bakrie Sumatra (UNSP ) terpantau melemah Rp20 ke Rp530.
Saham perkebunan Bakrie, UNSP, dikabarkan akan meningkatkan kepemilikan sahamnya di Agri Resources Pte. Ltd (AIRPL) hingga mencapai 675 lembar saham atau 73,85% dari seluruh saham yang dimiliki dalam AIRPL.
Dalam keterbukaan informasi yang disampaikan kepada BEI, perseroan disebutkan telah menutup transaksi perjanjian jual beli saham dengan Spinnaker Global Emerging Markets Fund Limited di Agri International Resources Pte Ltd pada tanggal 11 Maret 2010.
UNSP mengumumkan rencana menerbitkan obligasi untuk membiayai peningkatan kepemilikan di AIRPL, yang memiliki nilai strategis bagi perseroan. Saat ini, AIRPL bersama-sama dengan UNSP merupakan pemilik Agri Resources BV (ARBV), yaitu perusahaan yang gencar mengakuisisi perkebunan kelapa sawit. ARBV tercatat sudah menguasai lahan kebun kelapa sawit seluas 50 ribu hektare (ha).
Sebelumnya, penerbitan saham baru dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu alias rights issue UNSP kurang laku, karena hanya menyerap 70%. Rendahnya antusiasme investor pasar membeli rights issue diakibatkan ada obligasi 2011 yang akan jatuh tempo. "Investor juga menilai rights issue yang dilakukan karena UNSP sangat membutuhkan dana," kata analis dari Bhakti Securities.
UNSP menjual 9,47 miliar saham rights issue dengan harga penawaran Rp 525 per saham. Perseroan mengharapkan dana segar hingga Rp 4,97 triliun, yang sebagian besar akan digunakan untuk membiayai akuisisi beberapa perusahaan olekimia milik Grup Domba Mas. [mdr]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.