INILAH.COM, Jakata - Tiga nama bersaing ketat merebut jabatan Ketua Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres). Ketiganya bersaing diam-diam, meski di mata publik tidak tampak berambisi.
Ketiga nama yang muncul dan bersaing ketat adalah mantan Ketua DPD Ginanjar Kartasasmita , mantan Ketua Mahkamah Konstitusi, Jimly Asshiddiqie dan mantan Menteri Kabinet Orde Baru Emil Salim.
Pengamat politik Universitas Padjadjaran Dr Ari Bainus menilai, dalam menghadapi ketegangan politik antara DPR dan istana presiden terkait skandal Century, komposisi yang didominasi para tokoh tua itu mengesankan Wantimpres menjadi kurang energi. Kebanyakan orang tua, paparnya. Ginanjar dan Emil Salim sudah mendekati usia lanjut, dan merupakan menteri kawakan era Orde Baru Soeharto. Sementara Jimly Asshiddiqie dikenal sebagai orang dekat BJ Habibie.
Sementara pengamat politik Abas Jauhari menilai tidak ada kejutan seiring munculnya ketiga nama kandidat Ketua Wantimpres itu. Tidak ada kejutan, dan gebrakan, sebab mereka merupakan muka-muka lama dalam kekuasaan, papar Dosen Sosiologi UIN Jakarta itu.
Namun Abas menilai Jimly bisa lebih berpeluang mengingat perkara hukum seperti Centurygate dan deadlock antara lembaga DPR dan presiden saat ini masih menonjol dan butuh penanganan segera. Kans Jimly menguat jika SBY sungguh-sungguh butuh penasehat hukum dan politik yang kredibel, imbuh Abas.
Sembilan anggota Wantimpres adalah mantan Jimly Asshiddiqie, Ginanjar Kartasasmita, Emil Salim, mantan Menlu Hassan Wirajuda, mantan Menkopolhukam Widodo AS, mantan Menkes Siti Fadilah Supari, mantan Menneg Pemberdayaan Perempuan Meutia Hatta, mantan menteri negara otonomi daerah Ryaas Rasyid dan Ma'ruf Amin.
Wantimpres merupakan staf khusus yang diangkat dan diberhentikan presiden. Mereka bertugas memberi masukan kepada presiden. Lembaga ini pertama kali dibentuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 26 Maret 2007 berdasarkan UU No 19/2006 tentang Wantimpres.
Berdasarkan UU No 19/2006, anggota Wantimpres tidak boleh merangkap jabatan sebagai pimpinan parpol, ormas, yayasan, BUMN, atau BUMS, pimpinan organisasi profesi dan pejabat struktural pada perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta.
Dari nama anggota baru Wantimpres itu tak terdapat ahli tata negara kesohor, Adnan Buyung Nasution. Nama mantan anggota Wantimpres lama yang juga tak lagi dipilih adalah Ali Alatas, Rahmawati Soekarnoputri, TB Silalahi, Subur Budi Santoso, dan Radi A Gani.
Terkait isu Centurygate, Wantimpres diharapkan dapat menjalankan tugas secara efektif untuk memberi nasehat dan masukan bagi Presiden SBY dalam menjalankan tugas pemerintahan. Wantimpres hampir pasti dapat berperan efektif dalam memberikan saran dan pertimbangan kepada Presiden, kata Jimly Asshiddiqie, guru besar FHUI. [mdr]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !