inovasi portal berita
Minggu, 12 Februari 2012 Follow: Facebook twitter Dollar Kurs BI: 1 US Dollar = Rp.8,993.00   Mobile Mobile   Newsletter Newsletter   RSS RSS

Kasus Century, Ciptakan Perang Teror Antarpolitisi

Headline
istimewa
Oleh: R Ferdian Andi R
Kamis, 18 Maret 2010 | 16:09 WIB
INILAH.COM, Jakarta Panitia Khusus Angket Century telah berakhir dan menghasilkan kesimpulan dan rekomendasi. Namun efek untuk sejumlah anggota pansus masih saja terasa.

Setidaknya kesan itu muncul bila dikaitkan dengan para inisiator angket yang kini justru mendapat teror terkait kasus hukum. Ini cerita lama yang bakal terus berlanjut hingga Pemilu 2014.

Menurut Direktur Eksekutif Lingkar Madani untuk Indonesia (Lima) Ray Rangkuti kesan adanya teror yang menimpa para inisiator hak angket kasus Bank Century dan sejumlah politisi parlemen yang kritis memang sulit ditepis keberadaannya.
"Kesan itu tak dapat dihindari. Setidaknya karena beberapa alasan, ujarnya di Jakarta, Kamis (18/3).

Bukan tanpa alasan bila muncul anggapan terdapat serangan balik terhadap para penggagas hak angket Bank Century. Ray mencontohkan dalam kasus dugaan L/C fiktif yang dituduhkan kepada Mukhamad Misbakhun, polisi bersikap cepat, praktis, dan efisien yang hanya membutuhkan waktu tiga minggu untuk menetapkan dua tersangka. Namun berbeda sikap polisi dalam menangani kasus pidana perbankan Bank Century.

Pada saat bersamaan, kita belum mendengar kesimpulan sementara polisi soal penanganan kasus Bank century, khususnya yang terkait dengan kejahatan perbankan, ujarnya seraya menyebutkan, semua fraksi di DPR menyatakan proses akuisisi dan merger Bank Century terjadi tindak pidana, namun tak satupun yang sudah dipanggil polisi.

Situasi ini memang sudah terasa sejak awal Pansus Bank Century muncul, sejumlah kasus hukum para penggagas dan anggota Pansus Bank Century muncul ke permukaan. Mulai dari dugaan kasus korupsi beras impor oleh Ketua Pansus Century Idrus Marham dan Ketua Fraksi Partai Golkar Setya Novanto. Ada pula dugaan kasus suap BI terkait perjalanan ke London terhadap Andi Rahmat (FPKS) dan Ganjar Pranowo (FPDIP), yang kebetulan keduanya juga anggota Pansus Century. Hingga dugaan pengemplangan pajak yang dituduhkan kepada grup perusahaan yang dipimpin Ketua Umum DPP Partai Golkar Aburizal Bakrie.
Ada pula dugaan penggelembungan suara dalam Pemilu 2009 yang menimpa politisi PKS Andi Rahmat dan sejumlah anggota DPR lainnya. Faktor kebetulan ini tentu menimbulkan syak wasangka publik. Karena kasus yang awalnya dikaitkan dengan sejumlah anggota pansus termasuk para politisi parlemen, kini tak jelas ujung pangkalnya. Bahkan, nyaris tenggelam dari pendengaran publik. Hilang seiring selesainya kerja Pansus Hak Angket Bank Century pada 3 Maret lalu.

Sementara Wakil Sekjen DPP PKS Fahri Hamzah mengatakan, tekanan politik yang menimpa sejumlah politisi merupakan hal biasa dalam politik. Menurut dia, jika penguasa dituduh melakukan sebuah kesalahan, maka ia akan balik mencari kesalahan lawan. Jadi, sebagai politisi, kita nggak boleh cengeng, ujar Fahri.

Hanya saja, Fahri melihat terdapat indikasi kuat, saat ini penguasa menggunakan birokrasi atau lembaga-lembaga negara untuk kepentingan politik mempertahankan kekuasaannya. "Inilah yang lebih memprihatinkan kita, lembaga-lembaga negara atau pejabat negara diperdayakan untuk kepentingan kekuasaan, tegas Fahri seraya menyebutkan dampaknya, yaitu lembaga negara dan pejabat negara bersikap tidak independen.

Terkait fenomena demikian, Ray menilai, penanganan kasus Bank Century berpotensi akan didiamkan hingga akan diledakkan kembali pada Pemilu 2014. Atas situasi demikian, Ray memprediksikan politisi Partai Demokrat juga akan dilibatkan dengan kasus demi kasus.
Jadi sekarang ini parpol membiarkan orang-orang mereka menjadi objek pengganyangan korupsi. Ini sudah dihitung, toh dengan adanya tiga tahun sisa waktu, masyarakat akan lupa, ujarnya. [mor]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA TERKINI
BERITA POPULER
RSS| Layanan Mobile| Tentang Kami| Disclaimer| Kontak Kami| Karir| Newsletter
Copyright 2008 - 2012 inilah.com, All rights reserved inilah.com.