INILAH.COM, Jakarta - Peran Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) kini mulai memudar. Itu terjadi setelah BJ Habibie yang merupakan pendiri dan mantan Ketua Umum ICMI tak lagi menjabat di pemerintahan. Ada apakah?
"Dulu ICMI mempunyai sandaran politik yang kuat, yaitu Pak Harto dan Habibie. Sekarang sandaran itu tidak ada lagi," ujar pengamat politik Bachtiar Effendi kepada INILAH.COM, Jakarta, Kamis (18/3).
Dekan FISIP UIN Syarif Hidayatullah ini menambahkan, dulu orang yang punya posisi penting di ICMI dapat menjadi menteri. Sekarang, posisi-posisi penting di pemerintahan dikuasai orang partai politik, dari sinilah pamor ICMI mulai memudar.
Karena tidak lagi memiliki peran yang signifikan dalam politik nasional, Bachtiar menyarankan agar ICMI merumuskan kembali posisinya, apakah menjadi ormas biasa atau sekadar forum silaturahmi para cendekiawan muslim.
"Kalau mau jadi ormas apa bedanya dengan Muhammadiyah atau NU yang sudah lebih mapan?" Tanya Bachtiar.
Salah satu presidium ICMI, Marwah Daud Ibrahim mengakui adanya penurunan peran politik ICMI. Kalau dulu ICMI banyak bermain pada wacana politik dan demokratisasi, kini wilayah itu sudah ditinggalkan.
"ICMI lebih banyak menggeluti bidang-bidang pemberdayaan masyarakat bekerjasama dengan lembaga-lembaga yang ada, tutur Marwah. [mut]
Kamis (18/3) pengurus ICMI Pusat diterima Presiden SBY di kantor Kepresidenan. Dalam kesempatan itu, pengurus ICMI melaporkan hasil Silaknas ICMI di Batam, Desember 2009.