Minggu, 27 Mei 2012 | 19:00 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Krisis Eropa Picu Modal Asing ke Indonesia
Headline
Oleh: Rosdianah Dewi
web - Kamis, 18 Maret 2010 | 17:36 WIB
INILAH.COM, Jakarta - Krisis yang terjadi di sejumlah negara Eropa harus dapat dimanfaatkan sebagai peluang masuknya modal asing ke dalam negeri.

"Jangan hanya dilihat sebagai ancaman, namun sebagai peluang investasi," ujar Direktur Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Universitas Indonesia (UI), Chatib Basri di Jakata, Kamis (19/3).

Ia mengatakan, krisis yang terjadi di sejumlah negara Eropa seperti Yunani, Portugal, Italia, Spanyol dan Irlandia membuat investor mencari wadah baru untuk menanamkan modalnya.

"Bayangkan jika mereka investor punya modal Rp100 triliun, kemudian bunganya 10%. Berarti dalam setahun seharusnya punya keuntungan Rp10 triliun. Dalam sebulan sekitar Rp900 miliar. Kalau dihitung per hari berada di kisaran Rp30 miliar. Kalau tidak ada investasi, uang mereka hilang Rp30 miliar per hari," paparnya.

Menurut Chatib, para investor akan selektif memilih negara yang akan ditanami modal. "Jika memilih Amerika maka, resikonya akan lebih besar karena perekonomian di sana belum pulih," tuturnya.

Dengan begitu, lanjut Chatib, berarti terbuka peluang untuk berinvestasi ke emerging market seperti Indonesia, Brasil, Rusia, India, Cina, Thailand, dan Malaysia. "Thailand dan Malaysia ada dinamika politik, maka pilihannya adalah Brazil, Indonesia, Cina, dan India," ungkapnya.

Menurut Chatib, aliran dana yang masuk akan lebih cenderung ke capital market terlebih dahulu. Namun, ini merupakan indikator inisial menuju foreign direct investment (FDI).

"Orang akan menaruh terlebih dahulu di situ sampai lihat situasinya yakin, kemudian baru dia menuju foreign direct investment. Selalu trennya portofolio investment mendahului foreign direct investment," ungkap dia.

Kendati demikian, Chatib juga mengingatkan, agar tetap waspada karena pada semester kedua ini likuiditas global akan menjadi cukup ketat. Amerika kemungkinan akan menaikan bunganya, sehingga dapat terjadi pembalikan modal.

Seperti diketahui, Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) sendiri mencatat pertumbuhan investasi di tahun 2010 bisa mencapai 15% atau mencapai sekitar Rp160 triliun. [mre/cms]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.