INILAH.COM, Jakarta - Krisis yang terjadi di sejumlah negara Eropa harus dapat dimanfaatkan sebagai peluang masuknya modal asing ke dalam negeri.
"Jangan hanya dilihat sebagai ancaman, namun sebagai peluang investasi," ujar Direktur Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Universitas Indonesia (UI), Chatib Basri di Jakata, Kamis (19/3).
Ia mengatakan, krisis yang terjadi di sejumlah negara Eropa seperti Yunani, Portugal, Italia, Spanyol dan Irlandia membuat investor mencari wadah baru untuk menanamkan modalnya.
"Bayangkan jika mereka investor punya modal Rp100 triliun, kemudian bunganya 10%. Berarti dalam setahun seharusnya punya keuntungan Rp10 triliun. Dalam sebulan sekitar Rp900 miliar. Kalau dihitung per hari berada di kisaran Rp30 miliar. Kalau tidak ada investasi, uang mereka hilang Rp30 miliar per hari," paparnya.
Menurut Chatib, para investor akan selektif memilih negara yang akan ditanami modal. "Jika memilih Amerika maka, resikonya akan lebih besar karena perekonomian di sana belum pulih," tuturnya.
Dengan begitu, lanjut Chatib, berarti terbuka peluang untuk berinvestasi ke emerging market seperti Indonesia, Brasil, Rusia, India, Cina, Thailand, dan Malaysia. "Thailand dan Malaysia ada dinamika politik, maka pilihannya adalah Brazil, Indonesia, Cina, dan India," ungkapnya.
Menurut Chatib, aliran dana yang masuk akan lebih cenderung ke capital market terlebih dahulu. Namun, ini merupakan indikator inisial menuju foreign direct investment (FDI).
"Orang akan menaruh terlebih dahulu di situ sampai lihat situasinya yakin, kemudian baru dia menuju foreign direct investment. Selalu trennya portofolio investment mendahului foreign direct investment," ungkap dia.
Kendati demikian, Chatib juga mengingatkan, agar tetap waspada karena pada semester kedua ini likuiditas global akan menjadi cukup ketat. Amerika kemungkinan akan menaikan bunganya, sehingga dapat terjadi pembalikan modal.
Seperti diketahui, Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) sendiri mencatat pertumbuhan investasi di tahun 2010 bisa mencapai 15% atau mencapai sekitar Rp160 triliun. [mre/cms]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !