INILAH.COM, Jakarta Peningkatan jumlah penumpang tak lantas mendongkrak pendapatan PT Garuda Indonesia di 2009. Untungnya, maskapai pelat merah itu masih mampu membukukan kenaikan laba bersih 33,6%.
Direktur Utama PT Garuda Indonesia, Emirsyah Satar mengatakan, perusahaan yang dipimpinnya membubuhkan laba bersih pada 2009 mencapai Rp1,009 triliun atau meningkat 33,6% dari 2008 yang hanya mencapai Rp669 miliar. Pencapaian tersebut diraih berkat berbagai program komersial, operasi, keuangan, peningkatan produktivitas karyawan, dan efisiensi.
Sayangnya, pendapatan Garuda sepanjang 2009 hanya mencapai Rp16,7 triliun atau turun Rp1,3 triliun (7,2%) dari pendapatan capai Rp18 triliun. Penurunan pendapatan Garuda 2009 lebih disebabkan turunnya harga minyak dunia. Minyak menyebabkan harga avtur turun, dan berimplikasi pada rendahnya harga tiket, katanya di Jakarta, kemarin.
Penurunan harga avtur, memicu melandainya harga tiket selama 2009. Padahal, volume penumpang meningkat 3%. Namun, hal itu tidak berpengaruh banyak karena harga avtur turun 40%.
Untuk meningkatkan laba, Garuda pun melakukan terobosan lain. Di antaranya perseroan melakukan restrukturisasi atas besaran utang dari US$868 juta di 2006 menjadi sekitar US$527 juta di 2009. Sisanya US$400 juta di akhir 2010. Kami berhasil melakukan restrukturisasi utang, kata Emirsyah.
Emir menjelaskan adapun rincian utang yang berhasil direstrukturisasi antara lain utang ke European Credit Agency (ECA) sebanyak US$241,2 juta, commercial lender US$95 juta, Floating Rates Notes (FRN) sebanyak US$75 juta dan Rp108 miliar, serta utang lain-lain US$105 juta.
Garuda juga menargetkan porsi utang hingga akhir 2010 turun hingga mencapai US$400 juta. Menurutnya, hampir seluruh utang tersebut sudah mendapat persetujuan restrukturisasi dari krediturnya, kecuali ECA yang masih dalam proses negosiasi dokumentasi. "Kita harapkan selesai dalam waktu singkat," katanya.
Soal utang ECA, Garuda berkomitmen untuk melakukan pembayaran US$45 juta. Namun, hal itu masih harus dinegosiasikan lagi. Dari total utang Garuda khususnya kepada sesama BUMN ada yang sudah dikonversi dan menjadi kepemilikan saham dengan total 14%. Adapun utang konversi tersebut diperuntukkan guna penyelesaian utang kepada Bank Mandiri dan Angkasa Pura I dan II.
Aksi korporasi yang lain, Garuda juga telah menargetkan dana sebesar US$300-400 juta dari IPO yang rencanya akan dilaksanakan pada kuartal ketiga 2010. Dana tersebut akan digunakan untuk restrukrisasi perusahaan. Selain itu, Garuda juga berencana menggunakan dana IPO, salah satunya untuk mengkonversi utang kepada Bank Mandiri.
Emirsyah menjelaskan, rencananya semua dana yang didapat dari IPO akan dipakai untuk pengembangan bisnis (dana investasi). Namun, besaran pendapatan dari IPO masih harus dihitung lagi oleh underwriternya. Hanya underwriter yang berhak menentukan berapa besar nilai Garuda, katanya.
Saat ini Garuda masih dalam proses penunjukan underwriter. Rencananya underwriter IPO garuda akan kombinasi antara lokal dan internasional. Rencananya listing perdana akan dilakukan pada quartal ketiga 2010. Itupun, rencananya hanya listing di Jakarta walaupun investornya bisa saja dari luar negeri.
Dengan demikian, Garuda mantap menargetkan rata-rata pertumbuhan (growth) 2010 rata-rata sekitar 15% untuk semua sektor usaha, pertumbuhan laba bersih, pendapatan, dan peningkatan jumlah penumpang.
Garuda juga telah menyiapkan dana modal (capital expenditure) sebesar US$100 juta. Sumber dana tersebut semuanya dari dana internal Garuda dan semuanya sudah aman. "Sebagian besar dana capex 2010 akan dialokasikan untuk biaya modal seperti pembelian pesawat baru sekitar 24 pesawat, imbuhnya.
Pada 2010, Garuda akan menambah 24 pesawat di antaranya 23 pesawat Boeng 737-800 dan 1 pesawat Airbus A330-200. Pada 2010 Garuda juga menargetkan peningkatan jumlah penumpang sekitar 20% untuk setiap penerbangannya.
Direktur Niaga Garuda, Agus Priyanto mengatakan, pada 2010 ini Garuda merencanakan penambahan penerbangan ke Australia. "Total penambahan penumpang untuk semua penerbangan Garuda capai 20%," kata Egus.
Sebelumnya, pada pertengahan 2009, Garuda juga telah menambah rute baru Jakarta Sidney - Jakarta Melbourne. Garuda berhasil mengambil traffic dari pesaing kita. Selain itu volume penumpang rute middle east dipastikan tetap bagus, mengingat banyaknya orang indonesia yang berziarah ke Mekkah, pungkasnya. [mdr]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !