INILAH.COM, Jakarta Rupiah pada perdagangan valutas asing Jumat (19/3) diprediksi mengalami penguatan. Namun kenaikannya bakal sedikit tertahan seiring penguatan dolar AS terhadap euro. Analis valas bank asing, Yuri Sulastomo memprediksi, rupiah hari ini masih akan menguat, terlihat dari banyaknya
capital inflow. Namun, penguatan rupiah akan terbatas karena dominasi dolar AS terhadap mata uang Uni Eropa (UE). Rupiah akan berada pada kisaran 9.120-9.170 per dolar AS, katanya kepada
INILAH.COM, Kamis (18/3) petang.
Menurutnya, peluang penguatan rupiah masih besar karena banyaknya aliran dana asing, terutama setelah kenaikan rating kredit oleh Standard&Poor. Pasalnya, selangkah lagi, kemungkinan besar Indonesia akan masuk dalam kategori
investment grade.
Yuri menilai, jika sudah berada pada tingkatan tersebut, pemerintah bisa mencari pendanaan menggunakan instrumen dolar AS, karena biayanya lebih murah. Misalkan saja penerbitan obligasi berdenominasi dolar. Hal ini didukung fundamental dalam negeri. Dengan demikian, kekhawatiran investor bahwa suku bunga rupiah akan naik, sudah teredam. Ada optimisme kenaikan itu akan terjadi, lanjutnya.
Kenaikan suku bunga pun kelihatannya tak bisa dicegah, mengingat harga minyak telah tinggi di atas US$80, mengarah ke US$85-90 per barel. Selain menekan inflasi, pemerintah harus menyesuaikan kenaikan harga minyak ini dengan asumsi minyak di APBN yang berdampak pada penyesuaian harga BBM. Pasti ada kenaikan suku bunga, sebab posisinya sudah
bottom, ujarnya.
Yuri pun optimistis, rupiah masih menguat meski meski ada tekanan inflasi karena adanya kenaikan rating tersebut. Untuk
trading jangka pendek, ada kemungkinan koreksi. Sebab, kenaikan rupiah sudah cukup panjang, pungkasnya.
Di sisi lain, Albertus Christian K, periset dan analis senior PT Monex Investindo Futures memperkirakan, pergerakan rupiah hari ini akan menguat. Hal ini dipicu besarnya potensi aliran
capital inflow menjelang kedatangan Presiden AS, Barack H Obama ke Indonesia pekan depan.
Apalagi, direncanakan Indonesia akan melakukan enam kesepakatan dengan Obama. Di antaranya investasi bidang pendidikan, pertanian, kehutanan, industri, dan migas. Menurutnya, rupiah akan tertahan pada level Fibonaci 50%. Rupiah akan bergerak pada kisaran
support 9.000-9.060 dan 9.135-9.190 sebagai level
resistance-nya, katanya kepada
INILAH.COM, ketika dihubungi terpisah.
Peotensi penguatan rupiah juga didukung kenaikan kembali
Jakarta Interbank Offered Rate (JIBOR) dengan tenor tiga bulan di level 7,1088 atau naik 0,02 basis poin dibandingkan hari sebelumnya. Sementara itu,
US dollar LIBOR rates di level 0,2663 basis poin, justru merosot. Selama selisinyanya semakin lebar, rupiah akan terus menguat, tandasnya.
Di sisi lain, di AS semalam telah dirilis tingkat inflasi utama (
core consumer price index (CPI). Hal itu terbukti masih rendah sehingga memicu pelemahan dolar AS. Sebab, keadaan ini semakin memperkuat diperpanjangkan ketetapan suku bunga rendah di level 0-0,25%, pungkasnya.
Kurs rupiah

di pasar spot valas antar bank Jakarta, Kamis (18/3) ditutup melemah tipis 5 poin (0,054%) terhadap dolar AS menjadi 9.120/9.130. [vin/ast/mdr][[indosat]]