INILAH.COM, Jakarta - Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) kini bak lenyap ditelan bumi. Padahal di era 90-an, ICMI menjadi organisasi berwibawa dan disegani. Mau dibawa ke mana organisasi ini?
ICMI yang didirikan oleh BJ Habibie yang kala itu menjadi salah satu menteri kesayangan Soeharto menjadi cukup taktis keberadaannnya. Apalagi, setelah pelengseran Soeharto dari kursinya dan digantikan BJ Habibie, posisi ICMI kian strategis.
Memang ICMI memainkan peran dalam politik praktis, oleh karena itu mungkin orang melihat sangat menonjol dalam melihat karena ICMI terlibat dalam politik, aku Ketua Presidium ICMI Azyumardi Azra kepada INILAH.COM di Jakarta, Kamis (18/3).
Mantan Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini mengaku, di awal pendiriannya ICMI murni merupakan organisasi cendekiawan muslim yang tidak berorientasi pada politik praktis. Apalagi, dengan figur sentral Habibie yang memiliki akses pada jalur politik hingga terpilih menjadi pengganti Soeharto.
Tapi stigma itu muncul sejak awal berdiri hingga akhir 90-an. Namun sejak muncul sistem multipartai, ICMI tidak lagi terjun dalam politik kekuasaan, cetus Azyumardi.
Kini, ICMI memastikan diri untuk lebih fokus pada persoalan riil yang dihadapi masyarakat luas seperti penguatan ekonomi rakyat, serta peningkatan kualitas pendidikan yang kompetitif. Meski, kalau ada yang keliru dalam pemerintahan, ICMI akan melakukan koreksi, janji Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah ini.
Terpisah pengamat politik Alfan Alfian menilai meredupnya ICMI saat ini tidak terlepas dari setting politik yang berbeda saat orde baru dengan saat ini yang menerapkan pasar politik yang bebas dan kompetitif.
ICMI hadir tak lepas dari dukungan pemerintah atau tepatnya rezim Orde Baru. Waktu itu kekuasaan masih tersentralisasi seolah-olah hanya di satu tangan yakni Pak Harto, ujarnya melalui pesan elektronik, di Jakarta, Kamis (18/3).
Alfan juga menilai ICMI gagal dalam proses kaderisasi di internal organisasi. Ini dilengkapi dengan kegagalan ICMI dalam menampilkan organisasi yang berpengaruh sehingga muncul stigma ICMI nyaris tak terdengar.
Oleh karenanya, ciptakan kegiatan yang bermanfaat, yang dipandang masyarakat positif, bahwa ICMI masih berperan penting dalam merespons masalah umat dan bangsa, saran staf pengajar Universitas Nasional (Unas) Jakarta ini.
Selain itu, ICMI juga harus mampu menampilkan pemimpin yang berkarakter kuat dan dialogis dengan berbagai kelompok. Tidak sekadar itu, Alfan berharap, sikap kritis ICMI terhadap pemerintahan juga penting untuk membangun karakter organisasi di mata publik. Yang pasti, ICMI juga harus kritis terhadap kebijakan pemerintah yang dianggap keliru. Sehingga ICMI hadir dan publik jadi respek, imbuhnya.
Kehadiran ICMI yang sejak awal menjadi organisasi elit, seharusnya harus lebih membumi dan mengakar ke publik. Fungsi advokasi kelembagaan menjadi elan vital untuk mendekatkan ICMI dengan masyarakat akar rumput.
Seharusnya ICMI bisa belajar dengan baik selama kurun 10 tahun terlibat dalam arus kekuasaan. Bukan menjadikan ICMI besar dan membumi, namun justru berjarak dengan publik. [mdr]