INILAH.COM, Jakarta Saham PT Bumi Resources (BUMI), Jumat (19/3) diprediksi melanjutkan apresiasi. Penguatan harga minyak mentah di atas US$80 masih jadi penopangnya. Saatnya akumulasi beli! Bayu Aji, analis dari First Asia Capital mengatakan, besarnya potensi penguatan saham
BUMI hari ini dipicu kuatnya harga minyak mentah dunia di atas level US$80 per barel. Karena itu, meksi market domestik dan regional diwarnai
swing, saham sejuta umat ini bisa bertahan di area positif.
Ia menegaskan, BUMI menguat perlahan tapi pasti.
BUMI akan mengarah ke level
resistance Rp2.700 dan Rp2.450 sebagai level
support-nya, katanya kepada
INILAH.COM, di Jakarta, Kamis (18/2) petang.
Pada perdagangan kemarin, saham BUMI ditutup menguat Rp25 (0,98%) menjadi Rp2.575 dari sebelumnya di level Rp2.550. Harga tertingginya mencapai Rp2.600 dan terendah Rp2.525. Volume transaksi mencapai 188,9 juta unit saham senilai Rp482,8 miliar dan frekuensi 3.658 kali.
Lebih jauh Bayu mengakui, penguatan saham produsen batubara
thermal ini tidak sepesat kenaikan IHSG
^JKSE. Penguatan di grup Bakrie pun terbatas. Sehingga penguatan indeks pun, pendorongnya bukan dari Grup Bakrie. Tapi, BUMI sendiri masih bertahan di area positif untuk mencoba ke level Rp2.800, imbuhnya.
Penguatan BUMI memang perlahan, tapi saham ini menyesuaikan dengan kondisi market secara keseluruhan. Saat ini, Bayu menengarai ada kesengajaan dari pemegang saham pengendali untuk mempertahankan BUMI di level Rp2.500-an. Mereka bermain di saham yang lain terlebih dahulu, paparnya.
Keadaan ini, dapat dilihat dari kontribusi perbankan terhadap kenaikan indeks yang signifikan. Mereka melakukan
swing dari saham BUMI ke saham lain terlebih dahulu. Tapi, saham BUMI pun tidak ditinggal melainkan menguat secara bertahap, timpalnya.
Terhambatnya penguatan pesat BUMI, menurutnya tidak ada hubungannya dengan kisruh pajak perseroan. Kalaupun terpengaruh pajak, BUMI seharusnya malah turun. BUMI tetap positif meskipun perlahan. Sebab, di sisi lain, penguatan BUMI juga mendapat dukungan dari penguatan rupiah ke arah level 9.000 per dolar AS.
Bayu menegaskan, bertahapnya penguatan BUMI, lebih dipicu strategi investasi dari pemegang saham pengendali. Apalagi,
net buy asing sendiri kemarin masih signfikan meskipun tidak mencapai Rp1 triliun seperti hari sebelumnya.
Dari sisi aksi korporasi, BUMI juga mendapat dukungan dari anak usahanya, PT Multi Daerah Bersaing (MDB), yang menuntaskan pembayaran 7% saham divestasi PT Newmont Nusa Tenggara (NNT) periode 2009. Nilainya mencapai US$229,4 juta atau setara Rp2,08 triliun. Pembayaran itu direspons positif oleh market, ungkapnya.
Dengan transaksi ini BUMI berhasil menunjukkan kemampuan untuk membayar divestasi. Aksi korporasi BUMI akan semakin dipercaya. Apalagi, harga minyak berkontribusi pada kenaikan saham BUMI.
Karena itu, pada saat ada peluang koreksi, BUMI bisa dikoleksi. Saya rekomendasikan akumulasi beli untuk BUMI dengan target Rp2.800 dalam tiga bulan ke depan, pungkasnya. [mdr]