INILAH.COM, Jakarta Regulator akan menerapkan pola interkoneksi untuk menghentikan kenakalan operator yang masih menjalankan promo SMS gratis. Tapi pola ini dinilai bukan jurus ampuh.
Setelah ditertibkan Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) bersama Asosiasi Telekomunikasi Seluler Indonesia (ATSI) pada pertengahan Februari, awal Maret ini, SMS gratis kembali mencuat.
Untuk mengatasi hal itu, BRTI akan menerapkan pola interkoneksi dari sistem yang selama ini berlaku Sender Keep All (SKA). Pola SKA itu memungkinkan keuntungan diambil semuanya oleh operator pengirim SMS. Sedangkan interkoneksi diharapkan bisa menghilangkan tarif SMS Rp0 yang dikeluhkan mengganggu jaringan milik operator lain.
Chief Marketing Officer Indosat Guntur Siboro menyatakan tak masalah tarif SMS diubah ke sistem interkoneksi. Hal itu karena dalam proses pembuatannya melibatkan public hearing, dan melibatkan pihak konsultan serta pihak-pihak terkait untuk menentukan posisi terbaik.
Lagipula ini diberlakukan ke semua operator. Kalau ke Indosat saja misalnya, tentu ini akan jadi masalah buat kami. Tapi kalau diberlakukan ke semua operator berarti adil, katanya di Jakarta, kemarin.
Namun Guntur menilai sistem interkoneksi tidak akan menghilangkan SMS gratis seperti yang diharapkan regulator. Menurutnya untuk layanan voice juga ada interkoneksi, tapi kenyataannya tidak menghilangkan telepon gratis.
Apakah sekarang tidak ada telepon gratis? Masih ada kan. Jadi sebenarnya kemungkinan apapun masih terbuka lebar, selama tidak melanggar aturan. Ini semua tergantung tim kreatif dari marketing seperti apa, untuk meningkatkan pendapatan masing masing operator. Tentu pertimbangannya adalah yang mana yang lebih menguntungkan, imbuhnya.
Guntur tidak bisa memastikan apakah tarif SMS akan naik jika diterapkan sistem interkoneksi. Karena sistem yang diberlakukan belum jelas, Indosat juga belum melakukan penghitungan soal tarif SMS yang akan diterapkan.
Tapi ia mengingatkan operator tidak akan pernah rugi. Jika ada beban tambahan, maka akan dibebankan pada pelanggan. Mau gimana lagi? Beban tambahan ini tentu saja berdampak dengan harga yang kami berikan ke pelanggan, ujarnya.
Anggota BRTI (Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia) Heru Sutadi mengatakan pihaknya berusaha menghilangkan SMS lintas operator yang gratis dengan tarif Rp0-1. Intinya adalah kami berusaha mengurangi SMS gratis ini yang bisa membebani operator penerima, katanya.
BRTI juga sedang mengevaluasi perhitungan biaya interkoneksi Rp26/SMS, karena angka itu sudah lama. BRTI memperkirakan tarifnya akan lebih murah, karena biaya produksinya yang semakin turun. Meskipun begitu, bukan berarti tarif retail SMS yang dikenakan operator otomatis akan turun.
Belum tentu turun karena tarif SMS tidak hanya biaya interkoneksi. Ada biaya-biaya tambahan lain. Biaya interkoneksi hanya sekadar referensi untuk menentukan tarif jual dari SMS, jelasnya.
Heru menjelaskan untuk menentukan tarif SMS, operator menggunakan penjumlahan dari biaya interkoneksi, ditambah biaya marketing, margin dari opertor, serta beberapa elemen cost lainnya. Dari penjumlahan itulah, operator menentukan tarif SMS mereka.
Jadi menurut Heru tak menutup kemungkinan operator mengalihkan beban biaya yang ditanggung masyarakat. Memang biaya yang menanggung tentu saja pengguna operator. Tapi BRTI mengawasi agar masih dalam koridor wajar. Berdasarkan apa? Tentu saja berdasarkan kewajaran mereka dalam menetapkan tarif, katanya.
Sementara Head of Corporate Communication XL Febrianti Nadira mengatakan sistem interkoneksi akan memerlukan investasi tambahan. Misalnya saja perangkat tambahan untuk menghitung traffic. Selain itu mekanisme produksi juga perlu diubah dan ada beberapa perangkat yang harus disiapkan. Ini tidak sekedar pergantian sistem, katanya.
Febrianti tidak bisa menyebut nominal investasi untuk peralatan baru itu. Tapi sistem antaroperator itu harus didiskusikan mekanisme seperti apa. Tapi buat kami ini sama seperti invoice yang rumit, paparnya. [mdr][[indosat]]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !