INILAH.COM, Jakarta Saham PT Bumi Resources (BUMI), Jumat (19/3) diprediksikan menguat perlahan. Hal ini ditengarai ada unsur kesengajaan dari pemegang saham pengendali. Saatnya akumulasi beli!Bayu Aji, analis dari First Asia Capital menengarai perlahannya penguatan saham
BUMI saat ini dipicu oleh adanya kesengajaan dari pemegang saham pengendali untuk mempertahankan BUMI di level Rp2.500-an. Mereka melakukan
swing dari saham BUMI ke saham yang lain terlebih dahulu.
Tapi, saham BUMI pun tidak ditinggal sehingga menguat secara bertahap. Meksi market domestik dan regional diwarnai
swing, saham ini bisa bertahan di area positif.
BUMI menguat perlahan tapi pasti, katanya kepada Ahmad Munjin dari
INILAH.COM, di Jakarta.
Pada perdagangan Kamis (18/3), saham BUMI ditutup menguat Rp25 (0,98%) menjadi Rp2.575, dengan intraday Rp2.600 dan Rp2.525. Volume transaksi mencapai 188,9 juta unit saham senilai Rp482,8 miliar dan frekuensi 3.658 kali. Berikut wawancara lengkapnya.
Bagaimana Anda memprediksi pergerakan saham BUMI akhir pekan ini?Menurut saya, saham ini masih potensial naik karena kuatnya harga minyak mentah dunia di atas level US$80 per barel. Karena itu, meksi market domestik dan regional diwarnai
swing, saham sejuta umat ini bisa bertahan di area positif. BUMI menguat perlahan tapi pasti.
Akan bergerak di kisaran berapa?BUMI akan mengarah ke level
resistance Rp2.700 dan Rp2.450 sebagai level
support-nya. Tapi, harus saya akui penguatan saham batubara
thermal ini tidak sepesat kenaikan IHSG
^JKSE. Penguatan di grup Bakrie pun terbatas. Sehingga, penguatan indeks pun, pendorongnya bukan dari Grup Bakrie.
Tapi, BUMI sendiri masih bertahan di area positif untuk mencoba ke level Rp2.800. Meski penguatan BUMI perlahan, tapi saham ini menyesuaikan juga dengan kondisi market secara keseluruhan. Memang, sebelumnya BUMI merupakan motor penggerak indeks.
Apa alasan penguatan BUMI tidak sepesat kenaikan IHSG?Saat ini, sepertinya ada kesengajaan dari pemegang saham pengendali untuk mempertahankan BUMI di level Rp2.500-an. Mereka bermain di saham yang lain terlebih dahulu. Keadaan ini, dapat dilihat dari kontribusi perbankan terhadap kenaikan indeks yang signifikan. Mereka melakukan
swing dari saham BUMI ke saham yang lain terlebih dahulu. Tapi, saham BUMI pun tidak ditinggal sehingga menguat secara bertahap.
Ada anggapan terkait kisruh pajak perseroan?Terhambatnya penguatan pesat BUMI, tidak ada hubungannya dengan kisruh pajak. Kalaupun terpengaruh pajak, BUMI seharusnya malah turun. BUMI tetap positif meskipun perlahan. Sebab, di sisi lain, penguatan BUMI juga mendapat dukungan dari penguatan rupiah ke arah level 9.000 per dolar AS. Apalagi,
net buy asing sendiri kemarin masih signfikan meskipun tidak mencapai Rp1 triliun seperti hari sebelumnya. Bertahapnya penguatan BUMI, lebih dipicu oleh strategi investasi dari pemegang saham pengendali.
Bagaimana dengan aksi korporasi?Dari sisi ini, BUMI juga mendapat dukungan dari anak usahanya, PT Multi Daerah Bersaing (MDB), yang menuntaskan pembayaran 7% saham divestasi PT Newmont Nusa Tenggara (NNT) periode 2009. Nilainya mencapai US$229,4 juta atau setara Rp2,08 triliun. Pembayaran itu direspons positif oleh market.
Sebab, BUMI sudah berhasil menunjukkan kemampuan untuk membayar divestasi itu. Dalam aksi korporasinya sendiri, BUMI akan semakin dipercaya. Apalagi, harga minyak berkontribusi pada kenaikan saham BUMI.
Lantas, apa rekomendasi Anda?Pada saat ada peluang koreksi, BUMI bisa dikoleksi. Saya rekomendasikan akumulasi beli untuk BUMI dengan target Rp2.800 dalam tiga bulan ke depan. [jin/ast]