INILAH.COM, Jakarta - Kementrian Negara BUMN dan DPR akhirnya menyetujui rencana PT Bank Negara Indonesia (BBNI) menerbitkan saham baru (rights issue) dan obligasi subordinari (subdebt).
Kabar itu tentu cukup menyejukan hati manajemen Bank BNI. Sebab, untuk mengejar target ekspansi kredit 23% tahun ini, bank pelat merah itu membutuhkan suntikan modal baru agar rasio kecukupan modalnya (CAR) bisa dipertahankan di level 13%.
Rencananya, pada semester II 2010, BBNI akan melepas lagi 16,36% sahamnya ke masyarakat. Targetnya, dari pelepasan saham baru itu BBNI berharap bisa mengantongi dana segar Rp6 triliun.
Sementara dari penerbitan subdebt, bank BUMN ini akan mendapatkan dana Rp1 triliun hingga Rp2 triliun. Hebatnya, seperti dikatakan Mustafa Abubakar, Menteri BUMN, seluruh hasil penjualan saham akan menjadi hak perseroan.
Nah, jika rencana itu berjalan mulus, saham BNI di pasar akan meningkat menjadi 40% (saat ini 23,64%). Adapun saham pemerintah pascaaksi korporasi menjadi tinggal 60%.
Pertanyaannya, menarikah saham BBNI untuk dikoleksi? Sejumlah analis menilai, saham BNI punya prospek bagus. Salah satu alasannya, dengan target pertumbuhan kredit 23%, potensi pendapatan bunga bersih bank berkode BBNI ini akan naik pesat.
Selain itu, secara fundamental, kinerja BBNI boleh dibilang cukup solid. Tahun lalu, bank ini berhasil membukukan laba bersih Rp2,48 triliun atau meningkat 103%. Sedang asetnya tumbuh 13% menjadi Rp227,49 triliun.
Rasio kecukupan modal pun cukup kokoh. Setelah memperhitungkan risiko kredit dan pasar, rasio kecukupan modal (CAR) BBNI berada di level 13,7%. Yang menggembirakan, bank ini mampu mencatat penurunan non performing loan (NPL) net menjadi 0,8%.
Melihat performa BBNI yang cukup baik, sejumlah analis memperkirakan saham BBNI akan memperoleh respon besar dari pasar. Namun pendapat berbeda keluar dari seorang analis Kresna Securities.
Kata dia, langkah BBNI menerbitkan saham baru dan subdebt akan berdampak pada suplai yang terlalu besar. Akibatnya, tekanan terhadap saham ini akan tinggi. Selain itu, timing-nya tidak pas.
Sebab, para broker dan manajer investasi asing biasanya baru melakukan revisi portofolio investasinya di bulan September. Sebelum itu dilakukan, mereka tidak berani mengambil kebijakan baru. [mdr]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !