Minggu, 27 Mei 2012 | 19:11 WIB
Follow Us: Facebook twitter
‘Hot Money’ Tak Picu Gelembung Ekonomi
Headline
inilah.com/Wirasatria
Oleh: Ahmad Munjin
web - Jumat, 19 Maret 2010 | 15:59 WIB
INILAH.COM, Jakarta Derasnya aliran hot money ke pasar domestik saat ini dinilai belum memicu gelembung ekonomi. Sebab, price earning ratio (PER) bursa Indonesia masih berada di level moderat.
Pengamat ekonomi, David Sumual mengatakan, derasnya aliran capital inflow ke pasar modal belum akan memicu bubble ekonomi. Pasalnya, PER emiten-emiten yang tergabung dalam IHSG ^JKSE masih berada di level moderat 13,6% dan bergerak di kisaran 13-14%.
Level itu, lanjut David, masih cukup moderat jika dibandingkan dengan negara-negara di kawasan. Di antaranya, China yang sudah mencapai 22%. Jika dibandingkan dengan Singapura dan Korea, Indonesia masih lebih murah.
Baru jika PER Indonesia sudah melewati 20%, investor akan was was karena dianggap mahal, katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Jumat (19/3).
PER bursa Singapura berada di kisaran 15-16%. Namun, negeri singa putih itu tidak bisa dibandingkan dengan Indonesia karena tahapan ekonominya masuk dalam kategori negara maju. Indonesia lebih baik dibandingkan dengan Malaysia, Thailand, dan Filipina, imbuhnya.
David menegaskan, PER Indonesia lebih murah lagi jika dibandingkan dengan PER indeks Dow Jones pernah mencapai 30%. Bahkan Nikkei pernah mencapai 40%. Ketika bullish di bursa Shenzhen, mencapai 30%. Jadi, selama capital inflow masih terjadi, orang logis mau di level PER berapa, paparnya.
Namun, dalam jangka panjang, menurut David, PER Indonesia yang bisa sustainable (bertahan lama) di kisaran 17-18%. Sebab, level tetinggi indeks pernah mencapai 2.800.
Di sisi lain, tipisnya peluang bubble ekonomi, akibat hot money yang mengalir deras sejak Maret 2009, sebagian besar masuk masuk ke invetasi portofolio seperti Surat Utang Negara (SUN), Sertifikat Bank Indonesia (SBI), dan saham. Mereka banyak masuk ke obligasi pemerintah dan bukan obligasi korporasi, timpalnya.
Menurutnya, pembelian asing pada obligasi korporasi angkanya masih kecil. Porsi asing di corporate bond hanya mencapai 2% (Rp1,7 triliun) dari total outstanding obligasi Rp91,4 triliun. Sedangkan, kepemilikan asing di SBI mencapai 21% senilai Rp66,03 triliun dari total Rp314,42 triliun.
David menandaskan, hot money Indonesia, hanya terbatas pada portfolio invesment. Keadan ini sangat kontras dengan China yang investasinya masuk di sektor properti sehingga memicu bubble ekonomi. Indonesia belum akan mengalami bubble ekonomi, tandasnya.
Seperti diketahui, investor asing masih terus mengkoleksi saham-saham di Bursa Efek Indonesia (BEI). Selama 7 hari perdagangan perdana di 2010, transaksi beli bersih asing (foreign net buy) telah mencapai Rp3,084 triliun. Rata-rata harian pada pekan ketiga Maret ini pun mencapai kisaran Rp500 juta hingga Rp1 triliun per hari.
Di lain pihak, China kembali memangkas kepemilikan obligasi US Treasury (obligasi negara AS) ke tingkat terendah dalam delapan bulan. Hal ini disampaikan Departemen Keuangan AS, Senin (15/3) lalu.
China mengurangi kepemilikan obligasi AS menjadi US$889 miliar pada akhir Januari 2010 dari bulan sebelumnya US$894,8 miliar. Hal ini juga ditengarai akan menjadi aliran hot money ke Indonesia. [mdr]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.