INILAH.COM, Jakarta Sesi siang akhir pekan ini, IHSG mulai bangkit kembali dari koreksi dalamnya, dipicu rebound saham unggulan. Namun, pelemahan saham sektor telekomunikasi masih menggelayuti bursa. Pada perdagangan Jumat (19/3) sesi siang, IHSG

ditutup naik 17,57 poin (0,64%) ke level 2.754,81. Indeks saham unggulan LQ45

juga naik 4,41003 poin (0,82%) ke level 539,32.
Perdagangan di Bursa Efek Indonesia sangat ramai dengan volume transaksi tercatat mencapai 2,294 miliar lembar saham, senilai Rp 2,050 triliun dan frekuensi 59.143 kali. Sebanyak 91 saham menguat, sedangkan 73 saham melemah, dan 79 saham stagnan.
Semua sektor berkontribusi pada penguatan indeks kecuali perkebunan dan perdagangan. Kenaikan indeks dipimpin sektor konsumsi 1,92%, manufaktur 1,40%, industri dasar 1,23%, aneka industri 0,95%, keuangan 0,79%, properti 0,62%, pertambangan 0,41%, dan infrastruktur 0,04%.
Beberapa saham unggulan yang menguat antara lain PT Indo Tambangraya Megah (
ITMG) naik Rp 800 ke Rp 37.550, PT Astra International (
ASII) naik Rp 450 ke level Rp 40.650, Unilever (
UNVR) naik Rp 450 ke Rp12.400, Indocement (
INTP) menguat Rp 200 di posisi Rp 14.200, dan PT Perusahaan Gas Negara (
PGAS) naik Rp 150 menjadi Rp 4.225.
Kemudian saham Indofood (
INDF) yang naik Rp 125 ke Rp 4.200, PT Semen Gresik (
SMGR) naik Rp 100 ke Rp 7.750, Bayan (
BYAN) naik Rp 100 ke Rp 6.050, PT TB Bukit Asam (
PTBA) naik Rp 100 ke Rp 16.350, PT Bank Rakyat Indonesia (
BBRI) naik Rp 100 ke Rp 7.950, dan PT Bank Central Asia (
BBCA) naik Rp 100 ke Rp 5.550.
Namun, penguatan bursa sedikit terhambat koreksi saham telekomunikasi. Seperti Telekomunikasi Indonesia (TLKM) yang turun Rp 150 ke Rp 8.200. Emiten ini mendominasi perdagangan dengan nilai transaksi Rp378 miliar. Sedangkan saham PT Indosat (ISAT) juga turun Rp 50 ke Rp 6.100.
Alfiansyah, analis pasar modal dari Sinarmas Securities memperkirakan, pergerakan indeks hingga penutupan sore nanti akan variatif cenderung menguat (
mixed to higher). Indeks akan bergerak dalam kisaran
support 2.669 dan 2.774 sebagai level
resistance, katanya kepada
INILAH.COM, di Jakarta, Jumat (19/3).
Menurutnya, penguatan bursa dipicu aksi beberapa pelaku pasar yang mengakumulasi di level bawah dan merealisasikan keuntungan saat terjadi kenaikan. Aksi beli pun masih terus terjadi pada saham-saham yang harganya masih murah.
Sementara itu,
net buy asing pun masih terjadi, dengan volume lebih rendah ketimbang kemarin. Sebelum penutupan sesi pertama,
net buy mencapai Rp18,4 miliar. Akibatnya, indeks masih memiliki ruang untuk bertahan di teritori positif.
Lebih jauh Alfiansyah mengatakan akumulasi beli di level
support dipicu laporan keuangan
full year 2009 beberapa emiten yang menunjukkan angka positif. Mereka membeli di level rendah, dengan harapan mendapatkan
capital gain yang signifikan, ujarnya.
Namun investor jangka panjang cenderung melakukan aksi
hold. Setelah dirilisnya laporan keuangan, mereka berharap adanya dividen yang akan dibagikan. Selain itu, mereka juga berekspektasi atas kinerja perusahaan yang diakumulasinya, masih memiliki
potential up di 2010 ini, paparnya.
Pergerakan indeks pun dinilai akan mengalami hambatan akibat perlambatan bursa regional. Tapi, melihat secara individual emiten yang memiliki prospek, investor tetap melakukan aksi akumulasi beli sehingga indeks bertahan di teritori positif imbuhnya.
Sektor saham yang berpeluang menjadi penggerak indeks hari ini adalah sektor semen dan perbankan. Saham-saham pilihannya adalah PT Holcim Indonesia (
SMCB), PT Semen Gresik (
SMGR), PT United Tractors (
UNTR), dan PT Bank Negara Indonesia (
BBNI). Saya rekomendasikan akumulasi beli di level
support untuk saham-saham tersebut, pungkasnya. [ast/mdr]