INILAH.COM, Jakarta - Mundurnya jadwal kunjungan Presiden Amerika Serikat Barrack Obama ke Indonesia dinilai tidak merugikan.
"Lebih untung tanpa Amerika, tapi Amerika tidak untung tanpa Indonesia. Tanpa mereka tanpa kita kehilangan triliunan dolar," ujar Pengamat dari CSIS Kusnanto Anggoro dalam diskusi 'Urgensi kunjungan Presiden AS Barrack Obama terhadap pembangunan Nasional dan Daerah', di Gedung DPD, Jakarta, Jumat (19/3).
Menurut Kusnanto, nantinya pemerintah bisa meminta masukan dari berbagai pihak seperti DPR dan DPD dalam menyusun tentang agenda-agenda pertemuan dengan Obama.
Hal ini juga diungkapkan oleh Wakil Ketua DPD Laode Ida pada kesempatan yang sama. Laode menyatakan bahwa kehadiran Obama di Indonesia tidaklah penting apakah besok ataukah 1- 2 tahun lagi mendatang.
"Tidak hanya Obama, tamu negara lain boleh saja menjadwalkan berkunjung ke Indonesia," kata dia.
Sementara itu, Guru besar Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB Didin S Damanhuri menyatakan bahwa kedatangan Obama sebagai ajang pembuktian SBY yang dinilai terlalu dekat Amerika.
Disini, Indonesia harus mempunyai program-program yang mempunyai bargaining positioning sangat tinggi. Contohnya, yang dilakukan Mantan Menkes Siti Fadjriyah Supari yang memaksa Amerika mengakui tentang masalah herbal harus atas nama hukum Indonesia.
Agenda yang harus dipersiapkan antara lain dalam bidang ekonomi yang harus dipersiapkan adalah produk yang eksotik, industri rumah tangga bahkan kuliner dan potensial bisa mengekspor kesana. Dalam bidang lain diharapkan bisa memberi masukan teknologi seperti bidang pertanian dan perikanan.
Selain itu, saat kunjungan Obama kelak bisa ditagih, yaitu posisi Amerika di Timur tengah karena janjinya memperbaiki hubungan barat dengan Islam. [mvi/bar]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !