INILAH.COM, Jakarta Meski profit taking masih membayang, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan ditutup di zona hijau. Beberapa sektor masih akan membukukan penguatan. Mana saja? Analis Lautan Dana Investama Willy Sanjaya mengatakan, meski saham berkapitalisasi pasar besar (big caps) siang ini didera tekanan jual, namun IHSG masih mampu membukukan penguatan. IHSG memiliki kekuatan lagi untuk naik hingga tutupnya perdagangan akhir pekan ini, ujarnya ketika berbincang dengan
INILAH.COM, Jumat (19/3).
Menurutnya, peluang indeks untuk menembus level 2.800 sangat kuat, terutama setelah koreksi kemarin yang dianggapnya masih berada dalam tahap wajar. Salah satu sektor yang direkomendasikan adalah saham properti.
Willy menilai positif sektor properti, terutama untuk pengembang yang memiliki apartemen di perkotaan. Hal ini terkait peraturan kepemilikan asing yang akan diterapkan mulai Mei mendatang.Sementara tingkat bunga rendah, mengindikasikan tidak ada kenaikan suku bunga pinjaman, imbuhnya.
Beberapa saham yang direkomendasikan pada sektor ini adalah PT Ciputra Property (
CTRP), PT Ciputra Development (
CTRA), PT Bakrieland Development (
ELTY), dan PT Summarecon Agung (
SMRA).
Willy juga merekomendasikan saham perbankan. Pasalnya, dengan antisipasi suku bunga rendah,
cost of fund tidak mengalami tekanan naik. Selain itu, antisipasi kedatangan Obama pasti akan ada kontrak-kontrak investasi yang memacu pertumbuhan ekonomi Indonesia. Ini menjadi momentum kenaikan saham perbankan, paparnya.
Menurutnya, kenaikan tingkat suku bunga tak perlu lagi dikhawatirkan tahun ini karena takkan signifikan menyusul keputusan Bank Sentral AS The Fed mempertahankan suku bunga rendah. Hal itu membuat bank sentral negara lain berpikir untuk meredam rencana kenaikan suku bunga. Inflasi pun bisa dipertahankan rendah.
Saham sektor perbankan pun dinilai masih
underperform dibandingkan ekspektasi
earning tinggi di 2010. Valuasi menjadi menarik bagi investor asing, dimana saham perbankan Indonesia diperdagangkan di
price earning ratio (PER) 10-12,5 kali.
Beberapa emiten perbankan yang disarankan adalah PT Bank Mandiri (
BMRI), PT Bank Central Asia (
BBCA), PT Bank Danamon (
BDMN), dan PT Bank Negara Indoensia (
BBNI).
Sedangkan kenaikan harga minyak mentah ke level US$85 per barel, juga memicu kenaikan saham komoditas. Saham pilihannya adalah PT Aneka Tambang (
ANTM) dan PT Timah (
TINS).
Demikian juga saham PT Bumi Resources (
BUMI), yang akan segera membuat joint venture dengan pemerintah Papua, kemungkinan perusahaan lokal untuk realisasi akuisisi Freeport. Investor bisa
trading di saham-saham ini, imbuhnya.
Hal senada juga diungkapkan Deni Hamzah, manajer investasi PT Reliance Asset Management yang memprediksi adanya penguatan lebih lanjut hingga penutupan. Sentimen positif berasal dari penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Emiten-emiten yang memiliki utang dalam dolar AS diuntungkan dengan penguatan rupiah, imbuhnya.
Beberapa saham yang direkomendasikan adalah saham perbankan PT Bank Negara Indonesia (
BBNI) dan PT Bank Mandiri (
BMRI). Saham infrastruktur PT Perusahaan Gas Negara (
PGAS), PT Semen Gresik (
SMGR), dan PT Indocement Tunggal Prakarsa (
INTP).
Kemudian saham konsumsi PT Indofood Sukses Makmur (
INDF) serta saham otomotif PT Astra International (
ASII). Investor bisa mengakumulasi saham-saham ini, pungkasnya. [vin/mdr]