INILAH.COM, Jakarta - Masa puber dilalui dengan kawan akrab di Punahou bernama Ray. Seorang kulit hitam dari Los Angeles, yang pindah ke Hawaii karena bapaknya yang tentara pindah ke tempat itu. Obama Junior mulai mengenal sisi lain kehidupan kulit hitam Amerika.
Dari Ray, Obama Junior sering mendengar cerita-cerita tentang cewek Amerika. Juga tentang football. Atau pesta-pesta orang kulit hitam di luar pangkalan tentara. Sambil, tentu saja dia juga mengenal istilah-istilah kasar dalam dialog mereka.
Tentu, bukan dialog yang seimbang antara Ray, yang lebih suka bercerita tentang kebebasan mencari cewek dan Obama Junior yang telah menjalani penyesuaian panjang untuk menjadi anak yang harus memahami banyak hal tentang hubungan ayah-ibu dan ayah tirinya, di negeri jauh bernama Indonesia.
Ujung-ujungnya adalah Obama Junior merasa bahwa semua yang dijalani kawan-kawannya menjadi rumit. Kehidupan ritual yang monoton. Nilai rapot yang biasa saja. Kerja paruh waktu di rumah makan burger, jerawat, belajar mengemudi, sampai kehidupan cinta monyet.
Selama tiga tahun setelah kedatangan Barrack Obama Senior ke Hawaii, Ann Dunham tinggal bersama Obama Junior. Mereka bertiga, bersama Maya Soetoro, adik Obama Junior yang bermata hitam, tinggal di sebuah apartemen murah. Ann mendapat beasiswa untuk melanjutkan program magister bidang Antropologi. Dan, dari uang beasiswa itulah mereka bertiga hidup.
Banyak waktu dan nasehat yang didapatkan Obama Junior dari ibunya. Kesadaran terus tumbuh, bahwa Obama Junior telah menjadi anak kulit hitam yang harus mandiri. Mencuci, belanja, menjaga adik, menjadi cara bagi Obama menunjukkan perhatian dan bantuan pada ibunya.
Sampai suatu ketika, sang ibu bersiap-siap kembali ke Indonesia untuk menyelesaikan tugas lapangannya. Obama dan adiknya, Maya Soetoro diajak serta. Dan, kali ini Obama Junior sudah berani memilih: dia tidak ikut ibunya.
Suatu hal yang berbeda dari sepuluh tahun lalu, dimana Obama Junior tak bisa mengambil keputusan. Saat itu, Obama telah merasa bahwa hidup bersama kakek dan neneknya, jauh lebih baik daripada dia harus memaksakan diri untuk menyesuaikan dalam kehidupan baru di Indonesia. Suatu hal yang rumit bagi Obama Junior yang beranjak remaja.
"Jauh dari ibuku, jauh dari kakek-nenekku, aku menjalani perjuangan yang meresahkan. Aku mencoba tumbuh besar sebagai seorang lelaki kulit hitam di Amerika. Dan terlepas dari penampilanku, tak seorang pun di sekelilingku yang sepenuhnya menyadari itu,'' kata Obama Junior tentang pilihannya saat itu.
Ayahnya masih sering mengirimi surat. Isinya tak beraturan dan sulit dipahami Obama Junior. Yang selalu ditulis adalah nasehat-nasehat dalam bentuk ungkapan, yang juga tak bisa dipahami. Juga, selalu menawarkan bahwa Obama Junior, ibunya dan Maya bisa kapan saja berada di sisinya, kapanpun mereka mau.
Begitulah. Saat ibu dan adik perempuannya kembali ke Indonesia, kehidupan Obama Junior dimulai lagi. Dia kembali hidup bersama kakek-neneknya, dan juga teman-teman mereka, yang tentu saja ada yang kulit hitam. Mendengar lagi cerita-cerita orang tua itu. Melihat mereka main kartu, asap rokok, sesekali mendengar gerutuan saat ada yang kalah bertaruh.[bersambung/ims]