INILAH.COM, Bangkok Unjuk rasa berdarah di Thailand menyebabkan negara yang menjadi salah satu tujuan wisata favorit itu ditakuti turis asing.
Tak ada lagi wajah-wajah damai turis menghiasi pantai pasir putih Thailand. Ibukota Bangkok, berdasarkan laporan Straits Times, Jumat (19/3), dibanjiri pengunjuk rasa berkaus merah yang menuangkan darah ke jalanan.
Mereka adalah pendukung mantan PM Thaksin Shinawatra yang kabur keluar negeri dan diburu pemerintah terkait kasus korupsi. Sejauh ini, arak-arakan unjuk rasa memang tertib dan damai. Tetap saja, ada kekhawatiran gerakan massal ini kembali merugikan pemerintah.
Seperti tahun lalu, ketika puluhan ribu pengunjuk rasa berkaus kuning memblokade dua bandara di Bangkok. Ribuan penumpang terlantar, ratusan penerbangan ditunda, industri pariwisata mengalami kerugian miliaran dolar, serta citra Thailand tercoreng.
Industri pariwisata kemungkinan turun 20-30% untuk rata-rata tahunan karena banyak yang melakukan pembatalan. Bagaimanapun, siapa yang tak takut dengan ceceran darah yang digunakan, papar seorang perwakilan dari travel agent di Thailand, Surapol Sritrakul.
Turis asing berpikir, ada kemungkinan unjuk rasa berakhir dengan kekerasan. Lagipula, mereka takut ceceran darah itu berasal dari pembunuhan manusia. Ini bukan image yang baik untuk Thailand, kata pria yang menjadi Ketua Asoasiasi Travel Agent Thailand ini.
Hingga saat ini, terhitung 38 negara mengeluarkan travel warning untuk Bangkok.
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !