INILAH.COM, Beijing - China semakin menunjukkan penolakannya terhadap tekanan Washington untuk turut campur dalam mengendalikan nilai tukar yuan.
Beijing berusaha keras mencegah tekanan pembuat kebijakan AS untuk turun tangan dalam mengendalikan penguatan nilai tukar yuan. Para pengusaha AS khawatir, dengan terus menguatnya yuan maka akan menimbulkan defisit yang semakin besar pada neraca perdagangan mereka.
Menteri Perdagangan Cina He Ning menyatakan, banyak cara lain yang bisa ditempuh untuk mengendalikan yuan selain melakukan politisasi dan emosionalisasi. "Seharusnya bukan dengan cara memberi tekanan," ujarnya dalam jumpa pers, Jumat (19/3).
Menurutnya, pernyataan Washington itu dipicu oleh keluhan 130 pembuat kebijakan AS melaui surat kepada Presiden Obama, untuk turut campur dalam pemerintahan China.
Sebelumnya, Perdana Menteri China Wen Jiabao menolak campur tangan Washington dalam mengendalikan nilai tukar yuan karena pergerakannya masih dapat dikendalikan.
Washington dan rekan perdagangan China lainnya menyatakan, sebaiknya China mulai mengendalikan nilai tukar yuan karena berpotensi merugikan para eksportir.
Sementara itu, Wakil Menteri Perdagangan Cina Zhong Shan mengatakan margin keuntungan dari ekspor China hanya kurang dari 2% seiring menguatnya mata uang China. [mre/cms]