Selasa, 29 Mei 2012 | 00:59 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Politik Pencitraan Istana Tertunda
Headline
Barack Obama - istimewa
Oleh: Herdi Sahrasad
web - Jumat, 19 Maret 2010 | 21:45 WIB
INILAH.COM, Jakarta - Tertundanya kunjungan Presiden AS Barack Obama mempengaruhi pembentukan imagologi atau politik pencitraan Istana usai diterjang sentimen negatif dari skandal Century.
Tertundanya lawatan Obama ke Jakarta telah merontokkan imagologi mereka, dan dikhawatirkan, isu skandal Century menyeruak lagi, kata sosiolog Universitas Gadjah Mada (UGM) Arie Sujito dari Universitas Gadjah Mada, Jumat (19/3).
Selama ini skandal Century telah mengganggu pencitraan dan jalannya pemerintahan. Sehingga dengan lawatan Presiden AS Barack Obama ini diharapkan dapat mendongkrak imagologi Istana sekaligus sebagai menunjukkan sebagai pemimpin terkemuka di kawasan Asia Tenggara.
Pengamat CSIS Kusnanto Anggoro menilai kunjungan Presiden AS dinilai sebagai politik pencitraan dari Presiden SBY. Sehingga penundaan kedatangan Obama sedikitnya akan berpengaruh kepada SBY.
"Ya karena Istana sedang dihadapkan pada beberapa soal yang tidak jelas seperti Century. Bisa dikaitkan kehadiran Obama politik pencitraan," ujar Kusnanto Anggoro.
Menurutnya, banyak isu dan peristiwa di negara ini tertutup oleh berita tentang kunjungan Obama. Dengan pengunduran waktu kedatangan Obama itu, lanjutnya, bisa dilihat arah perhatian media akan kembali ke persoalan Bank Century atau tidak.
Sementara pengamat politik Nehemia Lawalata melihat ada sisi lain yang harus disimak dari penundaan kunjungan Obama ini. Mantan sekretaris politik Prof Sumitro Djojohadikusumo itu melihat penundaan bisa dibaca bahwa boleh jadi AS melihat pemerintahan di Indonesia telah dikuasai para teknokrat konservatif dan neoliberal yang tidak pro-rakyat.
Saya dengar Obama tersadar setelah membaca disertasi ibunya yakni Ann Durham mengenai Indonesia yang menyebutkan, kelompok ekonom konservatif dan neoliberal menguasai Indonesia, papar Nehemia.
Lalu, seberapa pentingkah kunjungan Obama tersebut? Efendi Gazali PhD kepada pers menyatakan, dari sisi politik pencitraan bagi SBY dan hubungan bilateral kedua negara, tentu penting. Tapi, semua tentu harus dengan agenda yang jelas.
Jika tidak ada program dan agenda yang jelas, dikhawatirkan publik akan melihat pertemuan itu sekadar politik imagologi (pencitraan) SBY di mata bangsa Indonesia dan masyarakat internasional. Kalau begitu, untuk apa bertemu? kata alumnus FT-UI itu.
Sekjen DPP Ikatan Mahasiswa Muhamadiyah Ton Abdillah Has melihat, batalnya Obama menjadi pukulan bagi SBY-Boediono dan Sri Mulyani untuk mempersolek diri dengan imagologi pascavoting DPR soal Century.
Kepemimpinan yang hanya berwacana dan berpolitik citra sudah usang, sebab imagologi itu justru merusak impresi publik mengenai kepemimpinan yang mengandalkan pencitraan demikian, kata mahasiswa Pasca Sarjana FT UI itu. [mdr]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.