INILAH.COM, Jakarta - Pada perdagangan Jumat (19/3) Rupiah ditutup pada kisaran 9.095 atau menguat 25 poin dibandingkan penutupan kemarin di kisaran 9.120.
Hal itu disampaikan Direktur Currency Management Farial Anwar saat dihubungi INILAH.COM, Jumat (19/3). Farial mengatakan, rupiah tidak anomali dengan pasar modal pada hari ini. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup pada kisaran 2742. "Ada suplai dolar di pasar valuta asing yang membuat rupiah terus menguat cukup baik," ujar Fahrial.
Penguatan rupiah ini masih dipicu oleh sentimen kebijakan The Fed yang mempertahankan suku bunga 0,25 persen. Pelaku pasar masih melihat investasi di Indonesia masih lebih bagus dibandingkan negara lain.
Menurut Fahrial, dana asing yang masuk ke Indonesia terus berlanjut mulai dari surat utang, SBI dan saham. "Sebelumnya ada kekhawatiran aksi profit taking di pasar modal. Selain itu pembelian dolar oleh
korporasi akan mempengaruhi rupiah. Tapi dana asing yang masuk mendukung penguatan rupiah," jelasnya.
Farial memprediksikan, penguatan rupiah masih terus berlanjut pekan depan. Rupiah akan ditransaksikan pada kisaran 9.050 hingga 9.125. Indonesia diperkirakan masih akan diserbu oleh hot money.
Dia berharap, Bank Indonesia dan pemerintah memiliki langkah antipasi terkait serbuan hot money yang masuk ke Indonesia. "Apakah ada langkah antisipasi mewaspadai hot money dan jangan terlalu dibiarkan menyerbu Indonesia," ujar Fahrial.
Selain itu, mata uang dolar AS mengalami tekanan juga memberikan sentimen positif untuk penguatan rupiah. [cms]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !