INILAH.COM, Jember - Di tengah iklim politik yang serba pragmatis, menjadi kandidat independen sama sekali tak murah. Butuh uang ratusan juta rupiah hanya untuk mendapatkan bukti dukungan berupa kartu tanda penduduk.
Pengakuan ini meluncur dari Dedy Iskandar, salah satu kandidat wakil bupati dari jalur perseorangan, Jumat (19/3). "Kendalanya ada pada masyarakat yang money oriented. Ketika mereka dimintai KTP, agar curiga. Apalagi dimintai tanda tangannya (untuk surat dukungan)," kata pria yang mendampingi calon bupai Mohammad Sholeh ini.
Dedy memahami bahwa masyarakat Jember masih sangat pragmatis. Akhirnya, Dedy dan Sholeh terpaksa mengeluarkan uang juga. "Saya cuma ganti ongkos fotokopi KTP, kok. Untuk pertemuan-pertemuan, ada saja yang minta sumbangan, kami habis sekitar Rp 400-500 juta," kata Dedy.
Sholeh dan Dedy berhasil mengumpulkan sekitar 78 ribu KTP. Jika memang benar mereka hanya keluar uang Rp 500 juta untuk mengumpulkan KTP, berarti itu masih terhitung murah, karena Biaya fotokopi per-KTP hanya sekitar Rp 6.500. "Kami mendidik masyarakat agar tak money oriented," kata Dedy.
Ditanya soal peluangnya menang dalam pemilukada mendatang menghadapi kandidat kelas gajah macam MZA Djalal atau Guntur Ariyadi, Dedy tersenyum.
"Kami tidak ada istilah calon gajah atau semut. Mungkin mereka mendominasi perolehan rekom dari partai. Tapi bukan jaminan menang. Masyarakat pragmatis, lebih suka memilih yang dikenal," katanya. Ia optimistis bisa menyabet 40-50 persen suara. [beritajatim.com/bar]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !