INILAH.COM, Jakarta - Presiden AS Barack Obama kembali menangguhkan kunjungannya ke Indonesia, Australia, dan Guam. Seberapa penting alasan yang mendasari penundaan itu?
Setelah mengalami penundaan dari jadwal semula, awal pekan ini sempat dipastikan bahwa Obama akan menginjakkan kakinya di Jakarta pada Selasa (23/3), setelah kunjungan ke Guam. Kemudian bertolak menuju Australia pada Kamis (25/3).
Presiden AS ke-44 itu telah menelepon langsung Presiden SBY dan PM Australia Kevin Rudd mengenai penangguhan ini. Kami menyesali penundaan ini. Namun pada saat bersamaan, kami juga telah menyampaikan kepada para pemimpin negara, ada prioritas penting yang harus dilakukan Obama, kata Jubir Gedung Putih Robert Gibbs.
Jadwal terakhir dari Gedung Putih menyebutkan, Obama berangkat dari AS pada Minggu (21/3) mendatang. Namun pada hari yang sama, Kongres AS berencana memvoting RUU sistem layanan kesehatan (Healthcare) pemerintahan Obama, yang membutuhkan dana sebesar US$940 miliar. Tak ada jalan lain, lawatan ke tiga negara Asia Pasifik ini memang harus ditunda.
Lalu, serumit apakah reformasi kesehatan yang menuntut perhatian penuh dan prioritas sang presiden? Program yang ditawarkan antara lain termasuk proposal asuransi kesehatan yang dibiayai pemerintah. Reformasi ini menuntut partisipasi individual dan pegawai, serta pajak yang mereka bayarkan untuk menutupi biaya.
RUU yang diberi nama America's Affordable Health Choices Act ini sesuai dengan misi Obama untuk mempermurah biaya layanan kesehatan bagi masyarakat, terutama warga tidak mampu. Diperkirakan, layanan baru ini akan mempermudah akses bagi 97% penduduk Amerika. Penekanannya pada pencegahan dan perbaikan.
Pada akhirnya, ini akan memperbaiki kualitas kesehatan penduduk Amerika, kata Obama sewaktu mengajukan RUU ini di Kongres beberapa waktu lalu.
Sebanyak 46 juta penduduk Amerika tak memiliki asuransi kesehatan, hal inilah yang berusaha diperbaiki pemerintah incumbent. Biaya untuk hal itu dibebankan kepada penduduk mampu atau kelas menengah ke atas melalui kenaikan pajak. Sebab itulah RUU ini juga mendapat protes dari masyarakat kalangan atas.
Pada RUU awal, sebelum direvisi partai Obama, Partai Demokrat, budget yang diajukan adalah US$1 triliun untuk program yang akan dijalankan minimal 10 tahun. Hal ini membuat oposisi, Partai Republik, menolaknya dengan alasan terlampau mahal. Cukup masuk akal, mengingat defisit anggaran pemerintah AS yang warisan mantan Presiden George W Bush mencapai lebih dari US$1,5 triliun.
Kantor Budget Kongres (CBO) mengatakan, RUU tersebut akan merata bagi 97% warga di 2015. RUU tersebut meliputi kenaikan pajak Amerika hingga 1,2% dari total pemasukan. Untuk
pasangan yang pendapatan per tahunnya lebih dari US$1 juta, akan dikenakan kenaikan pajak 5,4%. Pasangan berpenghasilan US$500 ribu-1 juta, dikenakan kenaikan 1,5%. Untuk pasangan dengan pemasukan US$350 ribu atau individual dengan US$280 ribu mengalami kenaikan 1%.
Partai Republik kembali menentang hal ini, dengan dalih akan melukai pebisnis kecil, terutama yang melaporkan pemasukan mereka sebagai pendapatan pribadi. Kadin AS juga menentang RUU kesehatan ini. Namun Demokrat bisa membantah pertentangan, dengan mengatakan kebijakan tersebut hanya akan mempengaruhi 5% pemilik bisnis kecil di Amerika. [mdr]