Selasa, 29 Mei 2012 | 01:03 WIB
Follow Us: Facebook twitter
RUU Kesehatan Obama Lebih Penting Ketimbang Jakarta
Headline
Barack Obama - istimewa
Oleh: Vina Ramitha
web - Sabtu, 20 Maret 2010 | 12:59 WIB
INILAH.COM, Jakarta - Presiden AS Barack Obama kembali menangguhkan kunjungannya ke Indonesia, Australia, dan Guam. Seberapa penting alasan yang mendasari penundaan itu?
Setelah mengalami penundaan dari jadwal semula, awal pekan ini sempat dipastikan bahwa Obama akan menginjakkan kakinya di Jakarta pada Selasa (23/3), setelah kunjungan ke Guam. Kemudian bertolak menuju Australia pada Kamis (25/3).
Presiden AS ke-44 itu telah menelepon langsung Presiden SBY dan PM Australia Kevin Rudd mengenai penangguhan ini. Kami menyesali penundaan ini. Namun pada saat bersamaan, kami juga telah menyampaikan kepada para pemimpin negara, ada prioritas penting yang harus dilakukan Obama, kata Jubir Gedung Putih Robert Gibbs.
Jadwal terakhir dari Gedung Putih menyebutkan, Obama berangkat dari AS pada Minggu (21/3) mendatang. Namun pada hari yang sama, Kongres AS berencana memvoting RUU sistem layanan kesehatan (Healthcare) pemerintahan Obama, yang membutuhkan dana sebesar US$940 miliar. Tak ada jalan lain, lawatan ke tiga negara Asia Pasifik ini memang harus ditunda.
Lalu, serumit apakah reformasi kesehatan yang menuntut perhatian penuh dan prioritas sang presiden? Program yang ditawarkan antara lain termasuk proposal asuransi kesehatan yang dibiayai pemerintah. Reformasi ini menuntut partisipasi individual dan pegawai, serta pajak yang mereka bayarkan untuk menutupi biaya.
RUU yang diberi nama America's Affordable Health Choices Act ini sesuai dengan misi Obama untuk mempermurah biaya layanan kesehatan bagi masyarakat, terutama warga tidak mampu. Diperkirakan, layanan baru ini akan mempermudah akses bagi 97% penduduk Amerika. Penekanannya pada pencegahan dan perbaikan.
Pada akhirnya, ini akan memperbaiki kualitas kesehatan penduduk Amerika, kata Obama sewaktu mengajukan RUU ini di Kongres beberapa waktu lalu.
Sebanyak 46 juta penduduk Amerika tak memiliki asuransi kesehatan, hal inilah yang berusaha diperbaiki pemerintah incumbent. Biaya untuk hal itu dibebankan kepada penduduk mampu atau kelas menengah ke atas melalui kenaikan pajak. Sebab itulah RUU ini juga mendapat protes dari masyarakat kalangan atas.
Pada RUU awal, sebelum direvisi partai Obama, Partai Demokrat, budget yang diajukan adalah US$1 triliun untuk program yang akan dijalankan minimal 10 tahun. Hal ini membuat oposisi, Partai Republik, menolaknya dengan alasan terlampau mahal. Cukup masuk akal, mengingat defisit anggaran pemerintah AS yang warisan mantan Presiden George W Bush mencapai lebih dari US$1,5 triliun.
Kantor Budget Kongres (CBO) mengatakan, RUU tersebut akan merata bagi 97% warga di 2015. RUU tersebut meliputi kenaikan pajak Amerika hingga 1,2% dari total pemasukan. Untuk
pasangan yang pendapatan per tahunnya lebih dari US$1 juta, akan dikenakan kenaikan pajak 5,4%. Pasangan berpenghasilan US$500 ribu-1 juta, dikenakan kenaikan 1,5%. Untuk pasangan dengan pemasukan US$350 ribu atau individual dengan US$280 ribu mengalami kenaikan 1%.
Partai Republik kembali menentang hal ini, dengan dalih akan melukai pebisnis kecil, terutama yang melaporkan pemasukan mereka sebagai pendapatan pribadi. Kadin AS juga menentang RUU kesehatan ini. Namun Demokrat bisa membantah pertentangan, dengan mengatakan kebijakan tersebut hanya akan mempengaruhi 5% pemilik bisnis kecil di Amerika. [mdr]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
1 Komentar
Ikra
Selasa, 23 Maret 2010 | 09:50 WIB
Apa yang dilakukan oleh Obama ini patut dijadikan contoh oleh Presiden negeri mana pun. Dia lebih mementingkan nasib 32 juta rakyat Amerika yang tidak punya asuransi kesehatan. Dengan alasan itu, saya ikut mendesak Obama lewat internet agar membatalkan kunjungannya kali ini ke Indonesia. Dia setuju! Setelah sukses, Obama tidak lupa berterimakasih kepada kami. Maka saya pun membalas emailnya dengan saran: Tell the US MNCs who are operating in my country to stop exploiting my country's natural resources for their own bosses! Tell them to pay much higher tax to my country so we can do what you are doing the good stuff for the people of your country. Tell it to the US MNCs who are operating in other countries in the entire wold too, especially in the Moslem countries! So, Obama's domestic politics/policy will be as the same as Obama's foreign politics/policy, focus it on the well being of the people of the world: "We're the people of the world..." In this way you have the right to keep your Nobel Prize!
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.