inovasi portal berita
Sabtu, 11 Februari 2012 Follow: Facebook twitter Dollar Kurs BI: 1 US Dollar = Rp.8,993.00   Mobile Mobile   Newsletter Newsletter   RSS RSS
IHSG Pekan Depan

Tunggu Sampai Terjadi Koreksi

Headline
inilah.com/Agung Rajasa
Oleh: Jagad Ananda
Minggu, 21 Maret 2010 | 09:08 WIB
INILAH.COM, Jakarta - Masih ada kemungkinan indeks saham pekan depan menguat, tapi sangat terbatas. Perdagangan akan diramaikan aksi ambil untung atas saham-saham yang telah mengalami kenaikan cukup tinggi.
Pelemahan yang terjadi pada indeks Dow Jones, kemarin, semakin memperkuat dugaan bahwa pekan depan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan menurun.
Ditambah lagi, harga minyak mentah dunia juga mengalami koreksi cukup signifikan, yakni kembali ke level US$80,68 per barel. Sehingga kemungkinan turunnya harga komoditas pertambangan menjadi semakin terbuka, yang pada gilirannya akan mengerek turun saham-saham di sektor ini.
Padahal seperti, saham-saham pertambangan merupakan salah satu penopang pergerakan IHSG yang cukup signifikan. Namun, kata sejumlah analis, tanpa adanya faktor harga minyak dan indeks Dow Jones yang menurun pun, IHSG sebenarnya sudah mengempit kemungkinan untuk menurun.
Maklum, dalam sepekan kemarin, indeks telah menguat 76,36 poin atau sekitar 2,8%. Sehingga kemungkinan terjadinya profit taking menjadi lebih terbuka, kata seorang kepala riset di sebuah perusahaan sekuritas asing.
Tentu saja, aksi ambil untung akan terjadi pada saham-saham yang telah mengalami kenaikan cukup signifikan. Misalnya saham PT Bank Mandiri (BMRI), yang dalam seminggu lalu telah menguat 12,29% ke level Rp5.200. Saham PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI) pun menarik dipetik gain-nya karena dalam sepekan harganya telah naik Rp500.
Kemungkinan indeks untuk menguat, memang, masih ada. Itu lantaran dorongan sejumlah sentimen positif dari dalam dan luar negeri. Sikap bank sentral AS yang mempertahankan suku bunga di tataran rendah, tetap akan memicu masuknya dana asing ke sejumlah negara di Asia (termasuk Indonesia). Sementara pengaruh negatif dari kebijakan uang ketat yang diterapkan pemerintah China semakin menipis.
Di dalam negeri, inflasi Maret diprediksi akan sangat rendah. Bahkan, seperti dikemukakan Menkeu Sri Mulyani, tidak tertutup kemungkinan terjadinya deflasi.
Hanya saja, kalau pun terjadi penguatan pada IHSG, besarannnya sudah sangat terbatas. Apalagi, mendekati April, musim pembagian dividen mulai habis. Dalam situasi seperti ini, biasanya, investor cenderung untuk keluar dari pasar.
Berdasarkan indikator-indikator itulah, para analis memperkirakan indeks di minggu ketiga Maret ini akan bergerak di rentang 2.778-2.795. Dalam menghadapi kondisi seperti sekarang investor dianjurkan untuk menunggu sampai harga saham-saham unggulan terkoreksi.
Setelah terjadi penurunan alangkah baiknya jika koleksi hanya dilakukan terhadap efek-efek blue chip seperti P Telkom (TLKM), PT Gas Negara (PGAS) dan PT Bukit Asam (PTBA). Saham-saham ini dalam jangka dua-tiga bulan diperkirakan harganya mengalami kenaikkan hingga di atas 10%. [mdr][[indosat]]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA TERKINI
BERITA POPULER
RSS| Layanan Mobile| Tentang Kami| Disclaimer| Kontak Kami| Karir| Newsletter
Copyright 2008 - 2012 inilah.com, All rights reserved inilah.com.