INILAH.COM, Yogyakarta - Angka kematian akibat penyakit jantung koroner di negara berkembang pada 2020 diperkirakan meningkat 137% pada laki-laki dan 120% pada wanita.
"Di negara maju peningkatannya lebih rendah dibandingkan negara berkembang, yakni 48% pada laki-laki dan 29% pada wanita," kata dokter ahli jantung Jogja International Hospital (JIH) Nahar Taufik di Yogyakarta, Sabtu (21/3).
Menurut dia, penyakit kardiovaskuler itu pada 2020 diperkirakan menjadi penyebab kematian 25 orang setiap tahunnya. Oleh karena itu, penyakit jantung koroner menjadi penyebab kematian dan kecacatan nomor satu di dunia.
"Namun, saat ini penyakit jantung koroner telah dapat diatasi dengan teknologi laboratorium kateterisasi jantung. Prosedur diagnostik dan tata laksana penyakit jantung koroner yang akurat dapat menurunkan angka kematian dan kesakitan akibat penyakit tersebut," katanya.
Ia mengatakan, prosedur diagnostik invasif dengan menggunakan fasilitas di laboratorium kateterisasi menjadi standar baku untuk diagnostik penyakit jantung koroner. Adanya sumbatan di pembuluh darah koroner akan terlihat jelas dengan prosedur invasif itu, yakni prosedur koroner angiografi.
Selain itu, laboratorium kateterisasi jantung juga dapat menentukan adanya kelainan struktural jantung akibat penyakit bawaan atau kelainan struktural jantung yang didapat saat dewasa.
"Prosedur invasif pada kelainan struktural dengan menggunakan sarana laboratorium kateterisasi jantung juga dapat menentukan pilihan waktu yang paling tepat kapan penderita kelainan struktural itu akan dilakukan operasi bedah jantung," katanya.
Menurut dia, laboratorium kateterisasi jantung juga dapat digunakan untuk prosedur tindakan intervensi, yang lebih dikenal dengan istilah intervensi jantung nonbedah. Prosedur itu untuk melakukan koreksi kelainan jantung tanpa dilakukan pembedahan.
"Pada penyakit jantung koroner akibat penumpukan plak therosklerosis di pembuluh koroner yang mengganggu aliran koroner dapat dilakukan prosedur pelebaran diameter pembuluh koroner dengan menggunakan fasilitas laboratorium kataterisasi," katanya. [*/mor]