INILAH.COM, Jakarta - Dua orang yang disebut sebagai calon kuat Ketua Umum PBNU, secara khusus dipanggil Presiden SBY ke Cikeas, Bogor.
Yang pertama dipanggil adalah Salahuddin Wahid atau Gus Sholah. Yang kedua, Said Aqil Siradj, yang Sabtu pagi (20/3) diundang untuk sarapan secara khusus oleh presiden.
Sarapan bersama itu dilakukan di kediaman pribadi presiden, di Cikeas, Bogor. Mendiknas M. Nuh turut mendampingi SBY pada pertemuan tersebut.
"Berlangsung sangat cair, di situ beliau secara pribadi turut mengharapkan agar saya bisa terpilih sebagai ketua umum nanti," ujar Aqil Siradj di Jakarta.
Salah seorang ketua PB NU itu lantas mengungkapkan, kepada dirinya SBY berharap semangat kebangsaan NU yang toleran dan moderat, yang dipegang sejak didirikan pada 1926, bisa dipertahankan. "Nah, yang paling sering bicara itu saya lihat ya sampean?" tutur Said menirukan ucapan SBY.
Kalau terpilih, lanjut dia, presiden berharap NU bisa bekerja sama dengan baik dengan pemerintah untuk mewujudkan Indonesia yang lebih baik.
"Tapi, tidak bicara dukung-mendukung, hanya menyambut baik, termasuk langkah-langkah intervensi atau apa pun," tambah doktor lulusan Universitas Ummul Quro, Arab Saudi, tersebut.
Sehari sebelumnya, SBY bertemu dengan kandidat ketua umum PB NU lainnya, Gus Sholah, juga dilangsungkan di Cikeas. "Saya sudah bersilaturahmi ke Presiden SBY," kata Gus Sholah di kediamannya.
Namun, menurut Gus Sholah, pertemuan tersebut tidak melulu membicarakan NU dan muktamar. Dia hadir di sana sebagai wakil keluarga besar Wahid.
"Kami mengucapkan terima kasih atas perhatian pemerintah selama ini kepada Gus Dur, selama sakit maupun setelah wafat," ujar adik kandung Gus Dur tersebut.
Soal muktamar, pembicaraan hanya terkait dengan pengembangan kerja sama NU-pemerintah di bidang pendidikan, kesehatan, hingga penangkalan gerakan radikal Islam.
"Tidak ada dukung-mendukung. Sebab, itu hanya silaturahmi," tambah pimpinan Ponpes Tebuireng, Jombang, tersebut.[*/ims]