INILAH.COM, Jakarta Pelbagai skandal seks telah menodai kesucian Gereja Katolik di sejumlah negara sejak puluhan tahun. Paus Benediktus XVI yang merasa kecewa pun sibuk meminta maaf.
Saya benar-benar merasa terganggu dengan kabar ini. Begitu besar kekecewaan yang saya rasakan. Ini penghianatan. Sebab begitu banyak yang menjadi korban dosa dan tindak kriminal ini, demikian pernyataan tertulis Paus Benediktus XVI yang dibacakan Jubir Vatikan Pastur Federico Lombardi, Minggu (21/3).
Dalam surat pernyataan sebanyak 18 lembar, pemimpin umat Katolik itu meminta maaf kepada para korban yang menderita di Gereja Katolik Irlandia. Para korban umumnya adalah anak-anak dan beberapa anggota gereja tersebut. Sedangkan pelakunya, yakni pastor di gereja tersebut.
Hal ini mencuat pascarilisnya laporan yang didukung pemerintah, tentang skandal pelecehan seksual terhadap anak-anak di Keuskupan Dublin, Irlandia, dan Gereja Katolik lainnya sepanjang 1975-2004.
Kepala Gereja Irlandia, Kardinal Sean Brady ikut mengeluarkan permintaan maaf, karena tidak mengungkapkan temuannya saat terlibat dalam penyelidikan pastur penyiksa pada 1975 silam. Kantor Brady saat itu menyatakan telah menyelidiki si pastur, yang kemudian dituduh sebagai pelaku pada belasan kasus penyiksaan anak.
Menurut Lombardi, Paus mulai memikirkan masalah pelecehan seksual ini sekitar tahun lalu, ketika terbit laporan pertama yang disebut Ryan report. Laporan itu merupakan salah satu dari tiga laporan pelecehan seksual dan fisik oleh petinggi gereja Irlandia yang terjadi sejak 2005.
Ryan report berisi penyelidikan kasus pelecehan oleh institusi Katolik pada 1936-1970. Pada laporan setebal 2.600 halaman itu, disebutkan pelakunya bukan pastur, melainkan biarawan atau relawan gereja.
Dalam pernyataannya, Paus secara tegas mengecam para pelaku dan menyebut mereka sebagai penghianat kepercayaan para generasi muda yang tak berdosa serta orangtua mereka. Paus juga mengatakan para pelaku sebagai orang-orang yang mempermalukan Irlandia serta merendahkan agama Katolik.
Pertanggungjawabkan perbuatan kalian, sebelum Tuhan menghukum di pengadilan-Nya, tegasnya.
Ia menutut para pelaku untuk segera menyerahkan diri kepada pihak berwenang. Untuk itu, sebaiknya ada kerjasama dari para pelaku sesuai hukum yang berlaku di Irlandia dan peraturan gereja.
Sejumlah faktor pun diduga sebagai penyebab maraknya kasus ini. Seperti prosedur kandidat pastur yang tidak memenuhi syarat, formasi moral dan spiritual di seminari yang di luar standar, serta perbedaan kepentingan untuk perbaikan reputasi gereja demi mencegah kejadian serupa terulang.
Krisis ini menggoyangkan iman umat dan banyak yang beralih dari gereja. Ini meredupkan cahaya Gospel sedemikian cepatnya, ke satu titik yang bahkan tak bisa dilakukan dalam waktu berabad-abad, lanjut Paus kelahiran Jerman itu dalam pernyataannya.
Sayangnya, pernyataan Paus hanya ditujukan untuk Ryan report. Padahal, banyak skandal serupa terjadi dan ramai dibicarakan di beberapa negara Eropa lain seperti Austria dan Jerman.
Terkait hal ini, Lombardi mengatakan, Paus sudah diberi informasi mengenai kondisi tersebut. Namun merasa tak pantas jika menyampaikannya dalam pernyataan kali ini.
Pernyataan Paus yang sepihak ini menuai protes dari para korban. Seperti Andrew Madden, korban dari kasus Irlandia yang pertama kali tampil di hadapan publik, setelah membuat kesepakatan dengan gereja. Ia merasa kecewa karena pernyataan Paus sama sekali tak menyebutkan peran aktif sejumlah petinggi gereja untuk menutupi skandal pelecahan seksual oleh pastur.
Ia meminta maaf atas tindakan orang lain, bukan apa yang ia lakukan. Tak ada bagian yang menyebutkan keterlibatannya dalam menutupi hal ini, tuturnya.
Demikian juga Leonie Sheedy, ketua salah satu kelompok hak asasi manusai, Care Leavers Australia Network. Ia ingin pemimpin St Peters Bassilica itu mengeluarkan pernyataan maaf untuk skandal yang terjadi di Australia. Kami ini juga menderita pelecehan emosional, fisik dan seksual, ujarnya. [ast/mdr]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !