INILAH.COM, Jakarta - Sedang asyik membaca buku di halaman depan rumah, tiba-tiba seorang pria mendekat. Dor...dor...dor...wartawan Kolombia tersungkur, bersimbah darah.
Pria bersenjata itu kabur dengan naik sepeda motor. Wartawan Kolombia bernama Clodomiro Castilla itu tewas seketika di teras rumahnya di kota Monteria di bagian utara negara itu.
Kolombia pernah dianggap sebagai salah satu negara paling berbahaya di dunia bagi wartawan untuk bekerja. Lebih dari 100 wartawan telah dibunuh pada 1980-an dan 1990-an oleh sindikat kokain, pemberontak dan paramiliter.
Perang internal beberrapa dasawarsa lamanya telah mereda setelah Presiden Alvaro Uribe mengirim tentara untuk merebut kembali beberapa daerah yang dikuasai pemberontak dan paramiliter.
Tetapi wartawan kadang-kadang masih diserang. Kali ini, nasib naas menimpa Clodomiro, yang ditembak pada Jumat (20/3) malam.
"Ketika wartawan itu sedang duduk membaca buku di teras rumahnya, ia didekati oleh seoang pria bersenjata, yang menembaknya beberapa kali dan kemudian kabur naik sepeda motor," jelas Kolonel Pedro Angelo Franco, seorang komandan polisi negara bagian.
Keluarga wartawan itu menceritakan ia telah menerima ancaman kematian, tapi menolak tawaran perlindungan pemerintah. [*/bar]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !