inovasi portal berita
Minggu, 12 Februari 2012 Follow: Facebook twitter Dollar Kurs BI: 1 US Dollar = Rp.8,993.00   Mobile Mobile   Newsletter Newsletter   RSS RSS

Pekan Ini: Beli Selektif Saham Komoditas & Bluechips

Headline
inilah.com
Oleh: Ahmad Munjin
Senin, 22 Maret 2010 | 05:53 WIB
TERKAIT
INILAH.COM, Jakarta Pergerakan indeks saham sepanjang pekan ini diprediksi menguat terbatas. Antisipasi laporan keuangan dan positifnya fundamental makro ekonomi Indonesia jadi katalisnya.
Purwoko Sartono, analis dari Panin Securities mengatakan secara teknikal, indeks berada dalam tren penguatan. Penguatan indeks salah satunya dipicu oleh aksi akumulasi beli investor menjelang dirilisnya laporan keuangan dari emiten-emiten. Sebab, masih banyak emiten yang belum merilis kinerjanya untuk full year 2009.
Namun demikian, indeks akan mengalami koreksi di hari-hari pertama pekan ini. Sebab, indeks sudah mencapai level tertinggi sejak awal 2010. Karena itu, kenaikan indeks menjadi terbatas karena tekanan jual di awal-awal pekan. Indeks berada di support baru 2.700 dan resistance berada di rekor tertinggi di level 2.830, katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Minggu (21/3).
Pada perdagangan Jumat (19/3), IHSG menguat 5,732 poin (0,2%) ke level 2.742,974. Indeks saham unggulan LQ45 juga naik 0,874 poin (0,16%) ke level 535,779.
Purwoko mengatakan, jika level support ditembus ke bawah, indeks justru bisa mengarah ke support berikutnya di level 2.650-2.630. Sebab, profit taking bisa terjadi awal pekan ini karena kenaikan indeks pekan lalu sudah cukup tinggi. Sehingga, level indeks saat ini, 2.740-an merupakan tertinggi sejak awal 2009 hingga sekarang, ujarnya.
Namun demikian, secara historis, pasar selalu bereaksi positif setelah laporan keuangan emiten sudah dirilis. Tapi, sekarang pun, investor sudah melakukan akumulasi beli sebagai antisipasi atas laporan kinerja. Tapi saham tersebut baru bergerak signifikan pada saat diirilis, timpalnya.
Purwoko menegaskan, meski di awal pekan indeks diwarnai profit taking, tetap akan menguat hingga penutupan di akhir pekan. Pasalnya, di luar faktor laporan keuangan pun, fundamental ekonomi Indonesia cukup memicu aksi beli di pasar, sehingga mendongkrak indeks.
Dari sisi makro ekonomi, meski ada rencana kenaikan tarif dasar listrik sebesar 15% pada Juli mendatang, inflasi diperkirakan masih berada di batas range yang diprediksikan pemerintah. Karena itu, dari sisi ini pasar tetap merespon positif, paparnya.
Sementara itu, sentimen dari regional, menurutnya, akan berpengaruh netral pada pergerakan indeks. Sebab, pasar regional mengantisipasi The Fed yang kemungkinan menaikkan suku bunga diskonto pada pertemuan mendatang. Sebelumnya, diskonto The Fed sebesar sudah naik 25 basis poin menjadi 0,75%, imbuhnya.
Di sisi lain, pergerakan harga minyak mentah dunia pekan ini akan lebih stabil. Sehingga tidak terlalu menjadi topangan bagi pergerakan indeks. Sebab, sangat berat bagi komoditas ini untuk tembus level US$85 per barel . Namun, indeks domestik saat ini, menurutnya, tidak terlalu terpengaruh regional. Sebab net buy asing pun pekan lalu sudah mencapai Rp3 triliun, ungkapnya.
Adapun, saham yang berpeluang menjadi penggerak, lebih pada individu sahamnya dan bukan sektornya. Terutama saham-saham di sektor komoditas dan bluechips yang cenderung menjadi sasaran investor. Saya rekomendasikan selective buy di saham komoditas dan bluechips, pungkasnya. [mdr]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA TERKINI
BERITA POPULER
RSS| Layanan Mobile| Tentang Kami| Disclaimer| Kontak Kami| Karir| Newsletter
Copyright 2008 - 2012 inilah.com, All rights reserved inilah.com.