Minggu, 27 Mei 2012 | 17:38 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Berpaling ke Saham Kelas Dua
Efek Elnusa Layak Ditimang
Headline
istimewa
Oleh: Jagad Ananda
web - Senin, 22 Maret 2010 | 11:14 WIB
INILAH.COM, Jakarta - Tingginya harga minyak akan mendorong bisnis Elnusa semakin encer. Apalagi setelah sebagian saham perseroan dikantungi Benakat. Harga wajar saham ini berada di level Rp480.
Inilah saatnya berpaling ke saham kelas dua dan tiga. Begitulah saran yang didengung-dengungkan kalangan analis dan kepala riset pekan lalu. Pasalnya, kata mereka, saham-saham unggulan kini telah mencapai harga tertingginya. Yang menjadi pertanyaan, saham apa gerangan yang layak dikoleksi?
Jawabnya, ternyata, sangat sederhana, yakni saham yang memiliki likuiditas tinggi dan diterbitkan oleh emiten berfundamental kuat. Akan lebih bagus lagi kalau yang dipilih dari sektor pertambangan dan perkebunan, yang produknya cenderung terangkat penguatan harga minyak dunia.
Nah, di antara sekian banyak, saham kelas dua yang dianggap pantas dibeli, para analis menunjuk efek yang dikeluarkan PT Elnusa (ELSA). Menurut pehitungan mereka, setelah benakat Petroleum Energy (BIPI) masuk menjadi 24,60% saham
Elnusa, kinerja perusahaan ini bakal meningkat dengan signifikan. Maklum, pemegang saham baru juga memiliki bidang usaha yang sama, yakni bisnis migas.
Dengan adanya tenaga baru, plus stabilnya harga minyak dunia di tataran US$ 80 per barel, bisnis Elnusa yang meliputi jasa pencairan cadangan, pengeboran dan produksi lapangan migas, diyakini bakal terdongkrak 30%.
Perkiraan ini, bukanlah sekadar ramalan omong kosong yang jatuh dari langit. Lihat saja, hingga akhir Februari lalu saja, perseroan telah mengantungi kontrak senilai US$124 juta. Itu berarti sudah mencapai 40% dari nilai kontrak yang dipatok direksi tahun ini yakni sebesar Rp4,52 triliun.
Makanya, kalau dalam waktu dua bulan sudah mengantungi potensi pendapatan sebesar itu, bukan mustahil target manajemen akan tercapai di akhir tahun. Apalagi, dalam poses pemulihan perekonomian dunia, harga minyak mentah diyakini akan terus berada di atas. Paling tidak, para pakar minyak memprediksi, harga si emas hitam akan berada di level rata-rata US$80 per barel.
Kondisi itulah yang membuat sejumlah pelaku pasar optimistis harga saham perusahaan ini masih memiliki potensi yang cukup besar untuk meningkat. Apalagi harga yang terbentuk saat ini Rp345 (19/3), masih belum mencapai harga penawaran perdana yang Rp400.
Beberapa analis percaya, dalam jangka pendek ini, ELSA akan mencapai harga Rp370 kemudian melaju ke Rp390. Ini merupakan momentum bagi saham-saham migas untuk bergerak, kata seorang pengamat pasar modal optimistis. Mereka yakin, saham ini, dalam jangka menengah-panjang akanmencapai nilai wajarnya di Rp480. [mdr]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.