INILAH.COM, Jakarta - Di antara kawan-kawan kakeknya, satu orang yang dekat dengan Obama Junior. Namanya Frank, penyair yang tinggal di perumahan miskin Waikiki.
Kata kakek Obama, Frank saat masih tinggal di Chicago adalah seorang yang hebat dan terkenal. Waktu itu sedang masa kejayaan Richard Wright dan Langston Hughes.
Frank memiliki karya-karya puisi yang sempat dibaca Obama Junior dalam antologi puisi orang kulit hitam. Obama bertemu saat Frank sudah berusia 80 tahunan.
Frank bertubuh besar dengan rambut beruban ala Afro yang tidak tertata rapi. Frank selalu membaca puisinya, jika Obama Junior dan kakeknya berkunjung.
Tentu saja, sebotol wiski dan selesai kacang. Lalu, Obama Junior akan diminta untuk membuat pantun-pantun jenaka.
Ujung-ujungnya, Obama akan mendengar keluhan dua lelaki tua tentang perempuan.
Obama tertarik dengan Frank karena buku-bukunya, dan aroma wiski. Dan, sebuah pengalaman baru yang sulit dimengeri Obama Junior. Yaitu, perjalanan ke sebuah tempat pelacuran di Honolulu.
"Jangan beritahu nenekmu," kalimat kesepakatan kakek pada Obama Junior.
Obama dalam usia 12 tahun, mulai mempelajari bar kelas bawah. Scotch untuk kakek dan coke untuk Obama Junior. Kemudian, pelajaran tentang bagaimana bermain biliar dari sang kakek.
Tentu, permainan yang sulit untuk anak 12 tahun. Obama Junior biasanya memilih untuk duduk sambil memainkan gelembung coke, dan memandangi lukisan porno yang terpajang di dinding. Lukisan seorang perempuan yang mengenakan kulit binatang dalam keremangan.
Obama mengakui sulit melupakan malam-malam seperti itu. Suara tawa orang-orang yang lelah. Bunyi berdetak bola biliar. Atau jukebox yang berkilauan dengan lampu merah-hijaunya.
Dalam kesadaran anak kecil, Obama mulai merasakan bahwa kebanyakan orang di bar itu, berada di tempat itu bukan karena tak punya pilihan.
Lebih dari itu. Orang-orang itu berada di sana karena mereka merasa tempat itu bisa membantunya melupakan masalah-masalahnya sendiri. Di situ mereka menemukan orang-orang yang tak akan menghakimi.
Dan, Obama Junior tahu bahwa itu adalah salah. Karenanya, saat menginjak remaja, Obama Junior berani menolak setiap kali kakeknya mengajak ke bar. Obama membangun diri sebagai bagian dari dunianya sendiri.
Nonton televisi, film bioskop, radio, cara berjalan, cara bicara, bahkan cara bergaya, mengikuti apa yang banyak diikuti saat itu. Juga, basket!
Di situlah Obama Junior mulai bertemu dengan Ray dan teman-teman kulit hitam yang mulai banyak berdatangan ke Hawaii.
Remaja-remaja yang bingung dan marah. Lalu, menjadikan tiap peristiwa sebagai garis batas antara hitam dan putih. Untuk kemudian, membentuk perasaan:"Begitulah cara orang-orang kulit putih memperlakukanmu."[bersambung/ims]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !