INILAH.COM, Beijing Revaluasi atau penguatan nilai tukar yuan China memang menguatkan mata uang kawasan Asia. Namun tak ada artinya jika tak sampai 20%.
Revaluasi yuan diperkirakan terjadi pertengahan tahun ini, hingga mencapai 5% kumulatif per akhir tahun, demikian laporan analis JPMorgan John Normand, Senin (22/3).
Menurut Normand, dengan revaluasi ini, perdagangan China akan mengalami surplus karena valuasi ekspornya lebih banyak 25% ketimbang impor. Namun, China harus merevaluasi mata uangnya hingga 20% jika ingin pengaruhnya merata ke seluruh dunia. Jika hanya 5%, maka level dampaknya takkan sebesar ketika Lehman Brothers kolaps, imbuhnya.
Ekonomi terbuka dengan ekspor tinggi yang terkonsentrasi di China akan mengalami akselerasi pertumbuhan dan perdagangan. Sebab, kuatnya nilai tukar yuan akan meningkatkan ekspor. Namun begitu, efek stimulasi dari revaluasi itu akan bergantung pada seberapa besar perubahan yuan dan ekspor terkait China terhadap PDB sebuah negara.
Ketika China mengapresiasi yuan, perubahan kebijakan takkan mengejutkan pasar. Namun ketika dampaknya sangat jelas menguntungkan mata uang Asia, pungkasnya. [ast]