INILAH.COM, Jakarta Sesi siang awal pekan ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terlempar ke zona merah. Penguatan ASII tak mampu menandingi tekanan dari saham BUMI dan TLKM. Pada perdagangan Senin (22/3) sesi siang, IHSG

ditutup melemah 7,71 poin (0,28%) ke level 2.735,27. Indeks saham unggulan LQ45

juga turun 2,8700 poin (0,53%) ke level 532,91.
Perdagangan di Bursa Efek Indonesia cukup ramai, dengan volume transaksi tercatat mencapai 1,361 miliar lembar saham, senilai Rp1,223 triliun dan frekuensi 37.597 kali. Sebanyak saham 61 menguat, sedangkan 116 saham melemah, dan 59 saham stagnan.
Mayoritas sektor saham berkontribusi pada koreksi indeks. Sektor pertambangan memimpin pelemahan 1,08%, perkebunan 1,02%, properti 1,01%, infrastruktur 0,94%, konsumsi 0,22%, dan perdagangan 0,35%. Hanya saja penurunan indeks tertahan oleh penguatan sektor aneka industri 1%, manufaktur 0,27%, keuangan 0,25%, dan industri dasar 0,10%.
Penguatan saham PT Astra International (
ASII) sebesar Rp 550 ke Rp 40.650, tak berhasil menopang bursa. Hal ini akibat dominasi saham PT Bumi Resources (
BUMI) dan Telekomunikasi (
TLKM) yang terkoreksi masing-masing Rp 75 ke Rp 2.500 dan Rp 150 ke level Rp 8.100.
Arga Paradita Sutiono,
research analyst Asia Kapitalindo Securities memperkirakan indeks hingga penutupan sore nanti akan bergerak variatif cenderung melemah (
mixed to lower). Hal ini dipicu oleh aksi
profit taking setelah indeks menguat tajam ke level 2.780 pekan lalu, ujarnya kepada
INILAH.COM, di Jakarta, Senin (22/3).
Namun, di sisi lain, aksi beli dan
net buy asing masih terus terjadi di pasar. Karena itu, pelemahan indeks pun menjadi terbatas. Indeks akan bergerak dalam kisaran
support 2.714 dan 2.756 sebagai level
resistance-nya, katanya.
Secara teknis, imbuhnya, indeks memang seharusnya melemah karena valuasinya sudah
overbought. Bursa Indonesia sepekan kemarin telah naik 2,9%, sedangkan indeks regional hanya naik tidak lebih dari 1%.
Secara fundamental pun, saat indeks menyentuh level 2.780,
price earning ratio (PER)-nya sudah mencapai level tertinggi di 15% dibandingkan regional yang berada di 13-14%, paparnya.
Sentimen negatif lain berasal dari harga komoditas yang saat ini kurang mendukung, dengan koreksi harga minyak mentah dunia ke level US$80 per barel

.
Namun,
net buy asing masih terus terjadi hingga hari ini. Pekan lalu, pembelian bersih asing mencapai Rp1,4 triliun, seiring dipertahankannya
The Fed Rate di level rendah 0-0,25%. Ini
hot money, sehingga sewaktu-waktu bisa keluar, ujarnya.
Menurut Arga, beberapa saham masih menopang indeks hingga mendekati area positif. Di antaranya adalah saham PT Astra Internasional (
ASII) dan PT Semen Gresik (
SMGR) yang berkapitalisasi besar. Indeks juga masih mendapat topangan dari penguatan saham-saham lapis dua.
Potensi penguatan pun terjadi pada saham-saham di sektor properti dan perbankan. Tapi, secara keseluruhan indeks akan bergerak
mixed sebab belum ada indikasi bertahan di wilayah positif, meskipun level
support-nya sudah tersentuh, tandasnya.
Dalam kondisi ini, Arga merekomendasikan beli atas saham PT Indofood Sukses Makmur (
INDF), PT Semen Gresik (
SMGR), PT Telkom (
TLKM), PT Alam Sutera Realty (
ASRI), PT Summarecon Agung (
SMRA). Sedangkan untuk
PTBA (PT Perusahaan Tambang Bukit Asam), cermati saja, pungkasnya. [ast/mdr]