Selasa, 29 Mei 2012 | 04:42 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Gus Sholah & Kyai Said Bertemu SBY
Pisau Mata Dua Pertemuan Cikeas
Headline
istimewa
Oleh: R Ferdian Andi R
web - Senin, 22 Maret 2010 | 17:45 WIB
INILAH.COM, Jakarta - Pertemuan dua kandidat Ketua Umum PBNU KH Salahuddin Wahid dan KH Said Aqil Sirad dengan Presiden SBY akhir pekan lalu berimplikasi tidak kecil jelang ajang Muktamar ke 32 NU di Makassar. Bisa jadi pisau bermata dua?
Sulit ditepis, jika pertemuan Gus Sholah (KH Salahuddin Wahid) dan Kyai Said (KH Said Aqil Siradj) berdampak politis jelang muktamar NU. Bisa saja dampak itu menguntungkan bagi keduanya, namun tidak kecil kemungkinan justru menjadi bumerang terhadap dua kandidat tersebut. Ini pertemuan Cikeas tak ubahnya pisau bermata dua.
Menurut analis politik dari Lembaga Survei Indonesia (LSI) Burhanuddin Muhtadi undangan SBY kepada dua kandidat Ketua Umum PBNU menjelang pelaksanaan muktamar sangat mudah ditafsirkan sebagai upaya pemerintah ikut campur dalam internal urusan NU.
"Kehadiran Kyai Said dan Gus Sholah di Cikeas bisa dijadikan senjata bagi pesaingnya untuk meyakinkan peserta muktamar akan adanya kandidat titipan pemerintah," ujarnya kepada INILAH.COM, melalui pesan elektronik, Senin (22/3).
Menurut Burhan, kubu KH Hasyim Muzadi yang mendukung Ahmad Bagja seolah mendapat amunisi untuk menyerang kubu Kyai Said dan Gus Sholah. "Padahal maksud SBY mungkin baik agar NU kembali ke khittah dan tidak dibawa ke ranah politik praktis sebagaimana pada masa Hasyim Muzadi," cetusnya.
Namun, bagi Burhan, bisa saja undangan kepada dua kandidat bisa juga dimaknai bentuk kekecewaan SBY terhadap NU di bawah kepemimpinan KH Hasyim Muzadi yang selama dua kali Pemilu (Pemilu 2004 dan Pemilu 2009), secara terang-terangan tidak mendukung SBY.
"Di Pemilu 2004, KH Hasyim Muzadi memobilisasi NU untuk mendukung Mega melawan SBY. Di Pemilu 2009, Hasyim kembali memanfaatkan NU untuk mendukung JK lagi-lagi untuk melawan SBY," ujarnya.
Burhan menegaskan, undangan terhadap Gus Sholah dan Kyai Said bukan tanpa sebab. Gus Sholah merepresentasikan keluarga besar Gus Dur yang dipersepsikan pihak yang dikhianati KH Hasyim Muzadi.
Sedangkan Kyai Said merepresentasikan tokoh NU yang tidak berpolitik. "Sementara undangan ke Said Aqil karena figur ini yang paling konsisten agar NU tidak berpolitik praktis," imbuhnya.
Sementara KH Said Aqil Siradj dikonfirmasi perihal pertemuan dirinya dengan Presiden SBY yang dituding sebagai dukungan presiden terhadap dirinya tegas-tegas membantah.
"Boleh diterima (tudingan bisa diintervensi SBY) kalau potongan saya bisa didikte, karena selama 15 tahun bukan potongan saya mau diatur-atur. Maaf, kalau saya tidak sependapat saya tolak, siapapun orangnya, termasuk dengan almarhum Gus Dur," paparnya ditemui di sela-sela Dialog Mufti Dunia di Hotel Sahid, Makassar, Senin (22/3).
Dalam kesempatan yang sama Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi menilai pertemuan pertemuan kandidat dengan Presiden SBY tergantung siapa yang melihatnya.
"Kalau sikapnya tidak enak maka pertemuannya dinegatifkan. Kalau yang melihat sedang enak ya dipositifkan," ujarnya seraya menegaskan, dua kandidat Ketua Umum PBNU yang dipanggil Presiden SBY sama sekali tidak merepresentasikan NU.
Burhanudin kembali memaparkan, pertemuan Presiden SBY dengan dua kandidat Ketua Umum PBNU itu bisa saja menjadi magnit saat muktamar. Hal ini mengingat figur SBY juga berpengaruh bagi massa NU.
"Bagaimanapun figur SBY sangat populer di mata elit-elit pengurus cabang NU di daerah. Terbukti fatwa politik Hasyim Muzadi untuk mendukung JK di pemilu 2009 tidak mempan karena kuatnya magnet elektoral SBY di kalangan NU," tandasnya.
Bagaimanapun, pertemuan dua kandidat Ketua Umum PBNU dengan Presiden SBY akan berimplikasi politis baik positif maupun negatif terhadap institusi NU. Kita lihat saja akhir Muktamar NU ini. [mdr]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.