INILAH.COM, Jakarta Rupiah menutup perdagangan pertama pekan ini di teritori negatif. Pasar masih meragukan kemampuan Yunani mencapai kesepakatan bantuan fiskal dari Uni Eropa atau IMF.Kurs rupiah

di pasar spot valas antar bank Jakarta, Senin (22/3) ditutup melemah 27 poin (0,297%) terhadap dolar AS menjadi 9.115/9.125, ketimbang akhir pekan lalu di level 9.088/9.098. Berdasarkan data Bloomberg pukul 17.00 WIB, rupiah melemah 17,5 poin (0,19%) menjadi 9.125 per dolar AS.
Albertus Christian K, periset dan analis senior PT Monex Investindo Futures mengatakan, pelemahan rupiah hari ini dipicu berlanjutnya kekhawatiran pasar atas kemampuan Yunani. Terutama dalam mencapai kesepakatan dengan Uni Eropa atau IMF untuk mendapatkan bantuan.
Reaksi atas Yunani ini telah memicu penguatan dolar AS secara signifikan, sehingga rupiah pun tertekan ke 9.115 per dolar AS. Bahkan sepanjang perdagangan sempat menyentuh level 9.134. Level terkuat hari ini di 9.095 pun, masih lemah dibanding penutupan pekan lalu, katanya kepada
INILAH.COM, di Jakarta, Senin (22/3).
Menurut Albertus, Yunani sebelumnya sudah mencanangkan untuk mengurangi rasio utangnya terhadap PDB, dari 113% menjadi 70% pada 2010, kemudian menjadi 30% pada 2011. Namun, pasar meragukan kemampuan Yunani mencapai kesepatan dengan IMF dan Uni Eropa. Apalagi Jerman masih menolak memberikan bantuan, paparnya.
Kendati demikian, lanjutnya, pengaruh negatif Yunani ini hanya bersifat temporari. Berdasarkan faktor fundamental jangka panjang, dolar AS masih berada dalam tren pelemahan. Hal ini mengingat The Fed sendiri yang masih
keukeuh pada kebijakannya mempertahankan suku bunga acuan di level rendah 0-0,25%, ucapnya.
Sementara itu, pelemahan rupiah dapat teredam karena faktor libur di bursa Tokyo. Dengan volume dan transaksi yang tipis, pelemahan rupiah pun terbatas.
Di sisi lain, kenaikan suku bunga India ke level 3,5% yang di atas ekspektasi pasar, telah memicu spekulasi, bahwa inflasi akan meningkat di negara-negara Asia termasuk Indonesia. Di saat yang sama, Australia, China dan Malaysia sudah menaikkan suku bunga. Karena itu, Indonesia pada kuartal ketiga diperkirakan akan menaikkan suku bunganya.
Albertus menambahkan, spekulasi ini seharusnya dapat mengangkat rupiah. Namun, pengaruh Yunani lebih besar. Mata uang utama pun melemah terhadap dolar AS. Hanya terhadap mata uang gabungan negara-negara Eropa (euro) dolar AS ditransaksikan stagnan di level US$1,3535. Tapi, pada akhirnya rupiah pun turut tertekan, pungkasnya.
Nilai tukar rupiah sore ini terpantau ditransaksikan pada level 8.332 terhadap dolar Australia, di angka 12.321 terhadap mata uang gabungan negara-negara Eropa (euro), dan di posisi 6.519 terhadap dolar Singapura.
Sementara itu, mata uang kawasan mendominasi pelemahan terhadap dolar AS. Hanya dua mata uang yang menguat. Dolar Australia naik 0,48% menjadi 0.911 dan dolar New Zealand terangkat 0,49% ke level 0.704 per dolar AS.
Selebihnya mata uang kawasan melemah. Yen Jepang turun 0,0011% ke angka 90.546, dolar Hong Kong terdepresiasi 0,02% ke posisi 7.761, dolar Singapura tertekan 0,19% menjadi 1.401, dan dolar Taiwan terkerek turun 0,15% terhadap dolar AS ke level 31.791.
Begitu juga dengan won Korsel yang terkoreksi 0,24% ke angka 1.135, peso Filipina melandai 0,31% ke posisi 45.680, rupee India merambat turun 0,10% menjadi 45.545, yuan China susut 0,002% ke level 6.826, ringgit Malaysia jebol 0,45% ke angka 3.318, dan baht Thailand merangkak turun 0,10% ke posisi 32.345 per dolar AS. [ast/mdr]