Minggu, 27 Mei 2012 | 17:53 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Upaya Bank Sentral Redam Inflasi, Tekan Bursa Asia
Headline
Oleh: Vina Ramitha
web - Senin, 22 Maret 2010 | 20:04 WIB
INILAH.COM, Sydney Bursa Asia ditutup anjlok dalam satu bulan terakhir, di tengah kekhawatiran bank sentral kawasan akan meningkatkan upaya mengekang inflasi. Selain pernyataan IMF bahwa perekonomian akan berjuang mengatasi hutang publik.
Indeks MSCI Asia Pasifik (APAC) tanpa bursa Jepang, terpantau anjlok 1,5% ke 415,27, menjauh dari level tertinggi selama dua bulan terakhir. Koreksi indeks terjadi dengan rasio empat kali saham turun untuk setiap satu saham yang naik. Indeks MSCI APAC menguat 1,3% pekan lalu, setelah The Fed mempertahankan biaya pinjaman nol persen serta aksi Bank sentral Jepang yang memperpanjang program pinjaman perbankan.
Menurut Pengana Capital Ltd. di Melbourne, Tim Schroeders, sejumlah investor makin khawatir mengenai ekspektasi inflasi dan tingginya jumlah negara yang terlilit defisit anggaran. Komentar Dana Moneter Internasional (IMF) juga mengubah perekonomian dunia ke jangka menengah, ulasnya kepada Bloomberg, Senin (22/3).
Menurut perkiraan IMF, perekonomian dunia akan naik 3,9% tahun ini dan 4,3% pada 2011, menyusul kontraksi 0,8% tahun lalu. Sementara 64 ekonom yang disurvei Bloomberg mengatakan, data perumahan AS kemungkinan akan berada pada level terendahnya untuk bulan Februari.
Indeks Hang Seng di Hong Kong jatuh 2,1%, penurunan terbesar di antara emiten patokan Asia-Pasifik, menyusul jatuhnya saham pengembang setelah Beijing mensuspensi beberapa penjualan tanah. Indeks Kospi di Korea Selatan turun 0,8%, indeks S & P / ASX 200 Australia melemah 0,9%, dan indeks komposit Shanghai di China menguat 0,2%. Adapun pasar Jepang tutup karena libur Nasional.
Indeks futures Standard & Poor 500 jatuh 0,8%. Indeks ini merosot 0,5% pada 19 Maret, setelah Bank Sentral India (RBI) secara tiba-tiba menaikkan suku bunga acuan untuk pertama kalinya dalam hampir dua tahun. Keputusan ini lebih cepat sebulan dari jadwal dan bertujuan untuk menjinakkan tingkat inflasi negara tersebut. Hal ini memunculkan spekulasi bahwa penarikan kebijakan stimulus ekonomi akan membatasi pertumbuhan global.
RBI menaikkan suku bunga ke 3,5% dari rekor terendahnya di 3,25%. Sedangkan repurchase rate naik dari 4,75% ke 5%. Imbal hasil untuk obligasi tertanggal Januari 2020 sebesar 6,35% yang kemudian naik 20 bps ke 8,03%. Level ini merupakan yang tertinggi untuk obligasi 10 tahunan, sejak Oktober 2008.
Analis mata uang global di Credit Agricole CIB Hong Kong Mitul Kotecha mengatakan, faktor kejutan dalam aksi RBI bukan keputusan untuk menaikkan suku bunga. Melainkan waktunya yang lebih cepat sebelum pertemuan berikutnya. Hal ini mengindikasikan kepentingan untuk meredam tekanan inflasi. Kenaikan suku bunga seharusnya dilakukan beberapa bulan lagi. Bersamaan dengan langkah bank untuk menekan inflasi, ujarnya.
Kebijakan pengetatan serupa juga telah dilakukan Australia dan Malaysia pada akhir Februari lalu. Sementara China telah memerintahkan penghentian kucuran kredit. Ada peningkatan cadangan negara hingga dua kali lipat tahun ini. China dan India pun menjadi dua negara perekonomian terbesar dan populasinya merupakan 37% dari seluruh penduduk dunia.
Industri berbasis material memimpin penurunan di antara 10 kelompok industri dalam indeks MSCI Asia Pacific kecuali Jepang. Hal ini terjadi setelah harga minyak mentah anjlok 1,9% ke level US$ 80,68 per barel dalam tiga pekan terakhir dan harga tembaga berjangka jatuh 0,7% menjadi US$ 3,3725 per pon.
Sektor komoditas juga melemah, seiring kekhawatiran menurunnya permintaan bahan baku. Perusahaan pertambangan terbesar dunia, BHP Billiton Ltd., turun 1,4% di bursa Australia. Pesaingnya, penambang terbesar ketiga dunia Rio Tinto Group, turun 1,5%. Produsen stainless steel terbesar Asia, Posco, turun 3,3% di Seoul dan Jiangxi Copper Co, produsen logam terbesar Cina, tergelincir 1,9% menjadi HK$ 16,52 di Hong Kong .
Demikian juga Petro China Co., perusahan energi terbesar di Hong Kong, turun 2,8%. Bersama Royal Dutch Shell Plc, keduanya akan membeli Arrow Energy Ltd. yang berbasis di Sydney senilai A$3,5 miliar (US$3,2 miliar). Saham Arrow sendiri anjlok 3,6%.
Sementara CNOOC Ltd, eksplorasi terbesar minyak lepas pantai, turun 2,7% menjadi HK$ 12,32, produsen migas terbesar ketiga di Sydney, Santos Ltd, melemah 1,2% menjadi A$ 14,08 dan PT Bumi Resources, eksportir batubara pembangkit listrik terbesar Asia, jatuh 9,7% ke Rp2.325 di Jakarta.
Di Australia, turunnya harga emas yang menjadi ekspor komoditas terbesar ketiga negara itu menyebabkan nilai tukar mata uang melemah dan berada di level terendah selama enam pekan terakhir. Nilai tukar emas juga berada pada titik terendahnya sejak 4 Februari. Selain itu, biaya perlindungan obligasi di Negeri Kanguru juga naik menyusul indeks pengalihan kredit gagal (credit default swap/CDS) masuk ke seri baru. [ast/mdr] [[indosat]]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.