INILAH.COM, Jakarta Calon presiden dari kalangan muda, dinilai masih jauh dan kalah pesona oleh Susilo Bambang Yudhoyono. Padahal, mereka sudah berusaha keras mengatasi daya pesona dan citra SBY menjelang Pemilihan Presiden 2009.
Sejumlah orang yang mengaku berusia muda, di bawah 50 tahun, mendeklarasikan diri menjadi calon presiden. Mereka antara lain Yuddy Chrisnandi, Rizal Mallarangeng, dan M. Fadjroel Rachman.
Sepertinya, mereka hendak memenuhi tuntutan dan selera publik terhadap munculnya figur muda. Dalam istilah Partai Keadilan Sejahtera (PKS), mereka dianggap sebagai capres 'balita'.
Seberapa besar peluang mereka? Satu hal yang hampir pasti, mereka kalah pesona dan pamor dibanding SBY, presiden saat ini. "Saya kira mereka masih jauh dan berat kalau menghadapi SBY dan Jusuf Kalla,'' kata pengamat politik Fachry Ali.
Para sosok muda itu sudah menawarkan janji dalam berbagai iklan politik mereka di televisi, media cetak, radio, dan blog. Iklan politik tersebut umumnya lebih mengedepankan wacana dan eksekusi visual bersifat paritas, alias sama sebangun.
Setiap kali melihat kemasan iklan politik di berbagai media massa cetak dan elektronik serta blog, jualannya nyaris sama. Sosok muda itu selalu dicitrakan berpendidikan tinggi, religius, santun, murah senyum, dan ramah.
Para tokoh muda itu laksana malaikat pembawa warta gembira penuh kedamaian dan kebijaksanaan. Mereka bagaikan sinterklas yang membagi-bagikan hadiah. Mereka seperti Superman yang senantiasa menolong si lemah dan si miskin. Mereka juga menjelma pahlawan pembela kebenaran.
Dalam kemasan tayangan iklan politik, sang tokoh selalu terlihat merakyat. Blusukan ke pasar tradisional dan pemukiman kumuh di pinggiran kota. Menyapa wong cilik penuh kehangatan. Berbaur dengan masyarakat pedesaan dan warga miskin.
"Di sana digambarkan, sang tokoh bersama pengiringnya ikut merasakan denyut kehidupan," kata Effendi Ghazali PhD, dosen Fisip-UI.
Namun publik melihat penampilan sosok-sosok muda itu masih sangat minimalis. Pada sekuen lain, mereka berdiri di depan kelas sebuah SD dan terlihat menjelaskan perihal arti pentingnya sebuah pendidikan. Namun, tak ada gagasan untuk mengatasi problem pendidikan yang akut.
Dalam hal ini, Wakil Ketua Umum DPP PPP, Chozin Chumaidy secara lugas mengatakan, figur SBY sulit dilawan para tokoh muda itu. "Kalau hanya jualan figur, rasanya SBY masih lebih menarik ketimbang mereka yang mengaku muda itu," kata Chozin.
Sejauh ini, belum ada satu pun tokoh muda yang menawarkan konsep secara konkret. Padahal, itu merupakan syarat mutlak untuk merebut simpati dan kepercayaan rakyat dalam Pilpres 2009.
Anggota Komisi II DPR itu menyatakan, partainya akan mendukung tokoh muda sepanjang konsep yang mereka usung benar-benar reformatif, solutif, dan tidak sloganistik. "Jadi, kalau memang serius, gulirkanlah konsep itu mulai sekarang kepada masyarakat," tuturnya.
Dengan begitu, rakyat akan memilih presiden karena adanya tawaran konsep yang jelas. "Bukan sebatas semangat dikotomi figur muda dan tua, suatu dikotomi yang tidak sehat," katanya.
Ketua DPP Partai Demokrat Anas Urbaningrum mengatakan, pilpres merupakan kompetisi antartokoh untuk menenentukan siapa yang paling dianggap mampu dan dipercaya rakyat. Karena itu, isu yang berkembang seharusnya menyangkut kapabilitas, integritas, dan akseptabilitas politik dari capres. [I4]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !