inovasi portal berita
Kamis, 23 Februari 2012 Follow: Facebook twitter Dollar Kurs BI: 1 US Dollar = Rp.9,059.00   Mobile Mobile   Newsletter Newsletter   RSS RSS

Berlebihan Jika Pendiri Boikot Pajak di FB Dituntut

Headline
Oleh: Ellyzar Zachra PB
Minggu, 28 Maret 2010 | 11:03 WIB
INILAH.COM, Jakarta Blogger menilai ditjen pajak berlebihan jika menuntut pendiri Gerakan 1.000.000 Facebooker Dukung Boikot Bayar Pajak untuk Keadilan di Facebook.
Itu tindakan berlebihan. Jika mereka tidak bekerja secara optimal atau melakukan kesalahan, tentu saja ada pihak yang merasa dirugikan kemudian mengeluarkan pernyataan tentang itu. Anggap saja ini sebuah teguran. Jangan langsung main tuntut saja, kata Enda Nasution yang juga disebut sebagai bapak blogger Indonesia, di Jakarta.
Enda menambahkan jika ditjen pajak memperkarakan pendiri Gerakan 1.000.000 Facebooker Dukung Boikot Bayar Pajak untuk Keadilan malah menambah pekerjaan lembaga itu.
Mereka sudah capek-capek mengurusi pajak, masak harus ditambah dengan persoalan hukum. Lebih baik menerima saja segala teguran dari mereka. Kemudian lakukan perbaikan sebisa mungkin agar nanti keluhan-keluhan bisa diminimalisir, tegas Enda.
Jika benar benar dituntut, maka reaksi masyarakat justru akan bertambah besar. Enda mengatakan yang sebenarnya diinginkan oleh Facebooker di Gerakan 1.000.000 Facebooker Dukung Boikot Bayar Pajak untuk Keadilan adalah mencari keadilan serta kerja perpajakan yang efektif.
Kalau malah balik menuntut, apa yang diharapkan masyarakat sendiri kan tidak selesai. Jadi nanti malah timbul masalah lagi. Sebaiknya memang semua pihak yang dikritik menerima saja dengan lapang dada, jangan terlalu dibesar-besarkan, tegasnya.
Menurut Enda Gerakan 1.000.000 Facebooker Dukung Boikot Bayar Pajak untuk Keadilan adalah wajar saja. Hal itu salah satu respon masyarakat menyangkut kinerja aparat pemerintah, khususnya soal pajak.
Itu mencuat karena kasus Gayus. Saya rasa masyarakat mulai merasa kecewa dengan kinerja serta pelanggaran hukum yang terjadi. Lalu menumpahkan kekesalan itu ke media, Facebook misalnya. Itu Wajar, kata Enda.
Mau gak mau kita harus menyadari bahwa penggunaan media dengan apresiasi masyarakat adalah sebuah hal yang sangat berhubungan. Pelayanannya buruk masyarakat kecewa. Seharusnya pihak-pihak yang disalahkan atau dikritik menerima saja. Memang toh terbukti masih banyak kekurangan. Memang banyak yang telah dilakukan ditjen pajak. Tapi masih banyak juga yang harus diperbaiki. Anggap saja ini sebuah bentuk pembelajaran bagi mereka untuk terus memperbaiki. Kritik yang membangun, timpalnya.[ito]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !
9 Komentar
monica @ Sabtu, 10 April 2010 | 22:58 WIB
HARI GINI masi ga terima pendapat orang laen?? emank nya kita masi di zaman ORDE BARU, ga bole ada pendapat sedikit pun?? sekarang kn zaman nya DEMOKRASI?? bole donk rakyat memberikan SUARA / PENDAPATnya..
eko sarwoko @ Senin, 5 April 2010 | 22:28 WIB
sebaiknya kita lihat sama-sama, apabila makelar kasus dan makelar pajak sudah benar- benar disikat maka bolehlah kita penuhi kewajiban kita bayar pajak, tapi kalau menguap ya buat apa kita kasih makan koruptor, lebih baik langsung kita kasih ke panti asuhan atau proyek pembangunan swadaya masyarakat di lingkungan kita, otre bro ???!!!
LIAN SAPUTRA @ Rabu, 31 Maret 2010 | 14:39 WIB
Kalau seluruh rakyat indonesia berbuat kebaikan, maka polisi, jaksa, hakim, dll sudah tidak ada kerjanya lagi, maka harus lebih banyak lagi gayus-gayus yang lain, ibarat mati satu tumbuh seribu, dan yang tumbuh ini sudah mulai akan berbuah menampakkan hasilnya seperti gayus yg hasilnya sudah nampak dan disinilah polisi, jaksa, dll ada kerjanya, kalau tidak yg dirumahkan saja mereka.
henzz @ Selasa, 30 Maret 2010 | 22:03 WIB
ah, sebenarnya masalah pajak, ketidak adilan dalam hukum, markus, dll di negera ini sebenarnya udah ada danberlangsung puluhan tahun yg lalu. saya yakin benar kalau para pejabat atau mantan pejabat udah tahu dan pura2 tak tahu akan hal ini. bukan rahasia umum lagi hal spt ini di negara kita...
surianto @ Senin, 29 Maret 2010 | 21:37 WIB
sepertinya sudah menjadi darah daging di negri kta kliya kasuh yg seperti itu jd ya udh biasa aj didengar masyarakat
Darsono @ Senin, 29 Maret 2010 | 11:42 WIB
Yang tidak setuju gerakan boikot bayar pajak pasti orang pemerintahan, soalnya kalau rakyat nggak mau bayar pajak pasti mereka nggak gajian, dan bagi para koruptor tidak ada lagi uang kenakalan yang bisa dibagi. Dan saya yakin rakyat kita cinta akan negeri ini tetapi kalau hasil jerih payah yang dilakukan oleh rakyat disalahgunakan apakah rakyat salah untuk berbuat sesuatu...???, dan saya yakin 100% masih banyak oknum-2 berkeliaran selain Gayus-2 yang lainnya yang siap menghisaqp keringat rakyat Indonesia yang sadar akan dirinya untuk membayar pajak.Dan ingin tahu apakah pelajaran SD kelas satu masih berlaku dimana setiap kita melakukan kewajiban kita pasti dapat hak atas apa yang kita lakukan.
suharto @ Minggu, 28 Maret 2010 | 21:12 WIB
gitu aja koq repot,gaya hukum dinegara kita kan gitu to. yang jelas di tutupi yang ngga' jelas dicari-cari,ya to
Edi mardiyanto @ Minggu, 28 Maret 2010 | 14:11 WIB
saya juga tidak setuju adanya gerakan boikot pajak tapi tolong pemerintah atau pihak yang berwenang harus cepat melakukan tindakan kepada oknum pegawai pajak yang melakukan kesalahan, jadi saya sebagai rakyat kecil dan warga negara yang taat pajak tidak kecewa.
akus @ Minggu, 28 Maret 2010 | 13:15 WIB
seharusnya pemerintah/ dirjen pajak intropeksi dengan kejadian gayus yang menghebohkan itu, adanya teman2 menggalang aksi boikot bayar pajak saya kira wajar2 saja selama untuk menegur dirjen pajak yang selama ini lemah dalam pengawasan stafnya atau kemungkinan besar atasanya terlibat dalam masalah ini,, kelalaian ini berarti sudah lama yang tentu beratus2 milyar/ triliun uang di salah gunakan, saya akan ikut serta untuk berfartisipasi dalam aksi ini selama dirjen pajak/pemerintah tidak bisa membangun kambali citranya untuk mengembalikan kepercayaan rakyat samua yang akan datang. thanks
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA TERKINI
BERITA POPULER
RSS| Layanan Mobile| Tentang Kami| Disclaimer| Kontak Kami| Karir| Newsletter
Copyright 2008 - 2012 inilah.com, All rights reserved inilah.com.