INILAH.COM, Jakarta - Usia Anya Dwinov sudah tidak muda lagi. Tapi sampai saat ini dia belum memikirkan untuk mencari seorang pria yang menjadi teman hidupnya kelak. Saat ini Anya masih menikmati kesendiriannya.
Menurut Anya, pekerjaan yang dijalani sekarang ini cukup membuatnya sibuk. Tak heran dengan segudang aktivitasnya, perempuan kelahiran Jakarta, 10 November, 25 tahun lalu ini belum berpikir untuk mencari pasangan. Anya mengaku, ia punya kekhawatiran soal berumah tangga. Kendati usianya sudah cukup untuk menikah, tapi Anya mengaku belum siap mental, termasuk dari sisi material. Soal mental, Anya harus berfikir matang dalam membina hubungan bersama orang lain.
Maraknya perceraian di kalangan artis juga menjadi pertimbangan Anya. Dia ingin memikirkan dengan matang konsep pernikahan yang akan dilakukan nanti. Sehingga jika rumah tanggannya nanti didera masalah, dia bisa mengantisipasinya. Seperti apa konsep rumah tangga yang diinginkan Anya, sehingga dia harus lebih memantapkan diri menghadapi pernikahan yang hanya sekali seumur hidup itu. Berikut petikan wawancaranya dengan INILAH.COM.
Kenapa Anda menunda menikah?
Bukannya menunda, tapi karena lebih mempersipakan diri. Aku masih belum cukup mental. Mudah-mudahan seiring waktu semua itu bisa berjalan sesuai rencana. Artinya kalau sudah waktunya aku memikirkan nikah, aku akan bisa lebih dewasa.Aku juga ini mapan dahulu. Aku ingin menjadi orang sukses. Aku bisa punya finasial yang aman, kehidupan yang tenang, merasa damai dan sehat.
Sampai kapan anda keinginan itu terjadi?
Mapan menurut aku itu bukan berarti aku menikah terlebih dahulu, punya anak dan baru dikatakan mapan. Menurut aku ukuran mapan itu, bagaimana kita mempersiapkan diri depan sendiri. Teman-temanku itu banyak yang menanyakan tentang pernikahan. Mungkin sekarang ini aku masih dalam tahap pencarian. Artinya kalau aku mengatakan setuju menikah, hal pertama yang harus aku lakukan siapkan adalah punya rumah sendiri, mobil, tabungan dan lainnya.
Bukannya sekarang ini kamu sudah memiliki rumah, mobil dan tabungan?
Sebetulnya aku termasuk tipe wanita yang tidak mau mempermasalahkan harta di kemudian hari jika menikah nanti. Artinya, jika menikah nanti ada yang namanya harta bersama. Itu harus diurus dengan baik. Jangan nanti kalau cerai, mudah-mudahan jangan sampai, untuk mengurusnya tidak sulit. Aku pikir, siapa orang yang ingin bercerai. Tapi, ada bagusnya kita menjaga. Dan kalau menikah nanti, aku lebih suka menganggap uang aku adalah uang aku dan uang kamu adalah uang aku juga. Prinsip itu, seperti prinsip wanita muslim bahwa semua harta adalah milik istri.
Apa yang membuat anda berfikir buruk tentang nikah?
Tidak buruk. Itu sebuah langkah untuk mengantisipasi. Begini, kalau masalah keuangan itu sangat penting. Aku tidak berharap nanti pasangan hidup aku itu akan mensuplai penghasilannya untukku. Walupun itu sudah menjadi kewajibannya, tetapi aku tidak mau mengandalkan dari penghasilan suami. Aku bukan orang yang pasrah.
Uang itu merupakan faktor pendukung utama dalam rumah tangga. Bagaimana kita bisa jalan ke mal jika kita tidak memiliki uang. Atau bagaimana kita bisa bahagia jika hanya 30% merasakannya indahnya hidup dan 70% faktor pendukung lain yang tidak merasakan bahagia.
Aku tidak mau anakku nantinya menginginkan sesuatu, tapi aku tidak bisa membelinya. Artinya, kalau aku belum bisa memenuhi kebutuhan anak, aku belum berusaha punya anak.
Tangapan orangtua anda soal konsep hidup anda itu?
Kadang aku merasa takut ketika banyak orangtua bilang pamali ketika anaknya menolak tawaran lamaran laki-laki yang datang ke rumah. Tapi bagaimana, aku pikir daripada tidak sesuai dan belum siap mental, lebih baik di tunda. Aku dan orangtua, terutama mama, sejauh ini sudah membicarakan masalah itu. Kita ada perjanjian mengenai pasangan aku nanti. Selama ini orangtua enggak boleh tanya pacar, soal teman dekat atau sosok yang namanya pria. Karena aku akan menikmati kehidupan yang aku jalani sekarang ini dulu. Mungkin itu egoisku.
Tipe cowok anda seperti apa?
Aku tidak suka cowok yang pecicilan , tidak suka cowok yang berpikir tentang 'bagaimana nanti'. Tetapi aku menginginkan cowok yang berfikir 'nanti bagaimana'. Aku juga menginginkan komunikasi yang detail, sehingga segala sesuatunya dapat terpikirkan dan terecana dengan matang. Aku suka cowok dengan selera humor tinggi, tapi humor yang bisa menempatkan diri. Tidak selalu melucu. Soal fisik aku tidak pernah mempermasalahkan karena aku mencari pasangan hidup, bukan mencari pajangan hidup. Aku juga ingin ketika menikah nanti, ada hal yang menjadi rahasia tersendiri. Misalnya rahasia itu isinya tentang teman-temanku. Karena aku percaya dalam rumah tangga itu, kita tetap membutuhkan yang namanya privasi. (E2)
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !