INILAH.COM, Jakarta Saham CPO anjlok akibat terkena beberapa sentimen negatif. Tapi, peluang peningkatan laba masih terbuka terkait keputusan izin impor benih kelapa sawit. Dua produsen benih sawit, LSIP dan SGRO, siap meraup untung.
Trimegah Sekuritas dalam riset hariannya mengatakan, kebutuhan benih sawit dalam negeri saat ini sangat tinggi dan melebihi pasokan. Hal ini memicu lonjakan harga benih sawit di tengah terkoreksinya harga CPO.
Kendati demikian, kenaikan harga benih kelapa sawit 2008 tidak terkait langsung dengan kenaikan harga CPO. Kenaikan harga benih lebih ditujukan untuk menyeimbangkan dengan biaya produksi, perbaikan kualitas sistem produksi, kualitas produk benih, dan peningkatan kualitas pelayanan bagi konsumen.
Menurut Trimegah, di antara tujuh produsen benih sawit, hanya dua perusahaan terbuka yang memproduksi benih sawit, yaitu PP London Sumatra (LSIP) dan Sampoerna Agro (SGRO). Krisis benih sawit akan menguntungkan kedua emiten terkait harganya yang melonjak.
"Berdasarkan proyeksi kami, bisnis benih sawit berkontribusi terhadap laba operasi LSIP pada 2008 sebesar 9,2% sedangkan kontribusi terhadap laba operasi SGRO 8,8%," ujarnya.
Laba bersih SGRO di semester I 2008 mencapai Rp 336,04 miliar atau melonjak 748,8% dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang tercatat Rp 39,59 miliar. Peningkatan laba bersih didorong penjualan konsolidasi yang mencapai Rp 1,498 triliun atau naik 176,9% dibandingkan semester I 2007 (Rp 541,06 miliar).
Penjualan minyak sawit (CPO) jadi penyumbang penjualan terbesar, mencapai 85,3% dari total penjualan, disusul penjualan inti sawit (palm kernel) 11,9%, kecambah 2,6%, dan karet 0,2%.
Pada perdagangan Senin (11/8) sesi siang, SGRO ditransaksikan turun 100 poin ke level 2.350 per lembar. Padahal, pertengahan Juni lalu, SGRO sempat diperdagangkan di kisaran Rp 4.000-an per lembar.
Kinerja LSIP di semester I 2008 tidak terlalu signifikan. LSIP memproduksi CPO 159.459 ton atau naik 5,49% dibandingkan periode sama pada 2007 yang tercatat 151.157 ton.
Naiknya produksi CPO didorong peningkatan pasokan tandan buah segar (TBS) sebesar 7,13% menjadi 680.760 ton year on year. Tapi, produksi komoditas lain seperti karet turun 25,18% ke 12.774 ton, kakao turun 46,16% ke 578 ton, dan teh turun 19,66% ke 599 ton.
Selain itu, perseroan juga berhasil membukukan perbaikan efisiensi. Hal ini dilihat dari rasio margin laba usaha yang meningkat. Di semester 1 2008, perseroan membukukan rasio margin laba bersih 32,17% atau naik 25,87% dibandingkan semester I 2007.
Siang ini, saham LSIP terpantau turun Rp 300 pada level Rp 6.350. Ini adalah level terendah sejak harga LSIP mencapai level Rp 10.700 pada 23 Juni lalu.
Melesatnya harga CPO beberapa waktu lalu dan kebijakan pemerintah mendukung industri kelapa sawit melalui program revitalisasi perkebunan, mendorong para pengusaha berekspansi di lahan sawit.
Tingginya permintaan benih kelapa sawit pun muncul akibat kebijakan perluasan lahan tanpa persiapan pasokan dan pengaturan impor benih. Permintaan kecambah mencapai 220 juta butir, sementara kapasitas produksi benih kelapa sawit dalam negeri dari 7 produsen benih mencapai 150 juta butir. Oleh karena itu, pemerintah memutuskan untuk impor.
Pemerintah mengeluarkan izin impor benih kelapa sawit sebanyak 15 juta benih dari Kosta Rika, Malaysia, dan Papua Nugini untuk 2008. Izin impor ini diberikan kepada 15 perusahaan, termasuk PT Bakrie Sumatera Plantation (UNSP), PT Surya Panen Subur, dan PT Andalas Wahana Berjaya, menyusul kurangnya pasokan dalam negeri. Adapun realisasi impor benih pada 2007 mencapai 30 juta kecambah.
Laju pengembangan perkebunan kelapa sawit di Indonesia selama tiga tahun terakhir mencapai 600.000 hektare per tahun. Selain itu, kebutuhan peremajaan sebesar 5% atau 300.000 hektare dari total areal perkebunan 6 juta hektare. Dengan asumsi kebutuhan kecambah 200 butir per hektare, permintaan riil kecambah sawit mencapai 180 juta butir.
Situasi krisis benih ini dinilai rawan terhadap pemalsuan benih. Akibatnya, masa depan perkebunan kelapa sawit Indonesia akan terpuruk. Pasalnya, penggunaan benih palsu dapat menurunkan produktivitas yang akan terasa 4-5 tahun kemudian. Jika tanaman dari benih palsu ini tidak diganti, produktivitas yang rendah akan berlangsung selama siklus hidup tanaman kelapa sawit (sekitar 25 tahun). [E1]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !