inovasi portal berita
Sabtu, 11 Februari 2012 Follow: Facebook twitter Dollar Kurs BI: 1 US Dollar = Rp.8,993.00   Mobile Mobile   Newsletter Newsletter   RSS RSS
Prediksi IHSG, Kamis (14/8)

Alihkan Modal ke Saham Perbankan

Headline
Istimewa
Oleh: Asteria & Natascha
Kamis, 14 Agustus 2008 | 06:44 WIB
INILAH.COM, Jakarta Penguatan indeks diprediksi akan terus berlanjut. Saham-saham sektor perbankan jadi pemacu di pasar modal. Sebaliknya, peningkatan ini akan tertahan di balik kemungkinan jatuhnya kembali sektor komoditas.
Analis Sinarmas Krisno Soekarno mengatakan saat ini sudah terlihat pasar memang tidak lagi didominasi saham komoditas. Investor sudah mulai beralih ke saham perbankan dan telekomunikasi. "Switching ini menambah minat investor untuk bermain di pasar," katanya kepada INILAH.COM, semalam.
Menurut Krisno, perbankan Indonesia relatif aman dari dampak subprime mortgage. Kendati masih ada kekhawatiran bahwa dampak krisis pembiayaan sektor properti di AS itu belum pulih, Bank Indonesia (BI) dinilai relatif kuat untuk menangkal sentimen negatifnya.
Hal ini terlihat dari perbaikan angka non performing loan (NPL) sejumlah bank. Ini berarti, dengan tren suku bunga yang meningkat hingga 10%, pertumbuhan kredit di BI masih tetap tinggi.
"Dalam proses switching ini, saham perbankan yang bisa dijadikan pilihan adalah saham PT Bank Mandiri (BMRI) terkait net interest margin NIM yang tetap tinggi," ujarnya.
Sedangkan sektor telekomunikasi juga dinilai masih dapat terapresiasi, terutama saham PT Telkom (TLKM). Efek dari perang tarif di bisnis seluler terlihat pada kinerja TLKM yang mengalami penurunan pendapatan. Namun, dengan tarif yang rendah, perusahaan telekomunikasi dapat meningkatkan jumlah pelanggan. "Di sini TLKM paling bisa menarik pasar," terangnya.
Kendati terjadi switching, bukan berarti saham batubara ditinggal investor. Terutama setelah sektor ini menggunakan harga average selling price (ASP) baru lebih tinggi, yaitu US$ 75-85 per ton, dibanding kontrak lama sebesar US$ 45 per ton.
PT Tambang Batubara Bukit Asam (PTBA) yang menggunakan harga US$ 80 per ton dan PT Indo Tambangraya Megah (ITMG) yang sebesar US$ 70 per ton, bisa memicu perhatian. "Ini menunjukkan produsen batubara masih akan membukukan net profit pada 2008," ulasnya.
Efek dari turunnya harga minyak juga dinilai Krisno menguntungkan sektor infrastruktur dan konsumsi. Pasalnya, beban subsidi pemerintah terhadap BBM akan turun dan bisa dialokasikan ke sektor ini.
Saham yang direkomendasikan adalah PT Wijaya Karya (WIKA), terkait keuntungan perseroan yang melonjak menyusul peraturan pajak baru bahwa perusahaan kontraktor hanya dikenakan pajak maksimal 3%. "Angka itu sudah final," imbuhnya
Sedangkan saham lain yang mendukung sektor infrastruktur seperti saham PT Holcim Indonesia (SMCB) juga menarik dikoleksi. Pasalnya price earning ratio (P/E) SMCB paling murah dibandingkan saham semen lainnya.
Di sisi lain, Krisno mengatakan bahwa saham perkebunan minyak sawit (CPO) masih harus dihindari. Hal ini dikarenakan koreksi harga CPO yang terlalu cepat dan belum memungkinkan terjadinya pembalikan arah dalam waktu dekat.
Pada penutupan perdagangan saham Rabu (13/8) IHSG naik 5,942 poin (0,29%) menjadi 2.063,521. Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) kemarin mencatat transaksi 44.872 kali, dengan volume 2,749 miliar unit saham, senilai Rp 2,661 triliun. Sebanyak 87 saham naik, 79 saham turun dan 73 saham stagnan.
Saham-saham yang harganya naik, antara lain, PT Indocement Tunggal Prakasa (INTP) naik 300 ke Rp 6.350, PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI) naik Rp 250 ke Rp 6.050, dan PT Bank Central Asia (BBCA) naik Rp 200 ke Rp 3.000.
Saham PT Bank Mandiri (BMRI) naik Rp 125 ke Rp 2.875, PT Medco Energi Internasional (MEDC) naik Rp 100 ke Rp 4.275, PT Bank Panin (PNBN) naik Rp 40 ke Rp 910, dan PT Aneka Tambang (ANTM) naik Rp 20 ke Rp 1.850.
Saham-saham yang harganya turun adalah PT Indo Tambangraya Megah (ITMG) turun Rp 2.250 ke Rp 22.750, PT Telkom (TLKM) turun Rp 100 ke Rp 7.400, PT Astra Agro Lestari (AALI) turun Rp 100 ke Rp 16.000, PT Timah (TINS) turun Rp 100 ke Rp 2.200, dan PT Bayan Resources (BYAN) turun Rp 150 ke Rp 5.300.
Bursa regional kemarin ditutup di zona negatif. Indeks Nikkei Jepang turun 280,55 poin jadi 13.023,05 dipicu sentimen negatif pelemahan ekonomi global yang berimbas pada sektor finansial dan selular karena pasar ragu akan pertumbuhan ekonomi negara itu. Indeks Topix turun 2% jadi 1.246,48 basis poin.
Indeks Kospi Korea turun 0,91% jadi 1.562,72 dipicu anjloknya saham perusahaan logam dan maskapai penerbangan. Indeks Hangseng di bursa Hong Kong turun 1,61%, indeks di bursa Shanghai turun 0,44%, indeks STI Singapura turun 0,39%, dan indeks bursa Taiwan turun 0,02%. [E1/I4]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA TERKINI
BERITA POPULER
RSS| Layanan Mobile| Tentang Kami| Disclaimer| Kontak Kami| Karir| Newsletter
Copyright 2008 - 2012 inilah.com, All rights reserved inilah.com.