Kabar memprihatinkan datang dari Lembah Kamuu di pedalaman Papua. Tepatnya di Distrik Monemani, Kabupaten Paniai. Penyakit kolera dan muntaber mewabah hebat. Menyebabkan 200 lebih penduduk meninggal sejak April lalu.
Beredar kabar, mewabahnya penyakit kolera ini adalah upaya pihak tertentu untuk menghilangkan penduduk asli Papua. Tapi, lepas dari isu yang melatarbelakangi mewabahnya penyakit kolera di Papua, seyogyanya kita perlu tahu juga apa penyakit kolera itu.
Kolera adalah penyakit menular di saluran pencernaan yang disebabkan oleh bacterium vibrio cholerae. Seseorang terkena penyakit kolera jika bakteri ini masuk ke dalam tubuh melalui makanan ataupun minuman yang sudah terkontaminasi sanitasi yang tidak benar atau memakan ikan yang tidak dimasak dengan benar.
Gejala yang terjadi diawali dengan diare (karena bakteri itu mengeluarkan racun enterotoksin pada salauran usus), perut keram, muntah, dan dehidrasi. Kematian yang terjadi pada seseorang yang terkena penyakit kolera karena kehilangan cairan tubuh atau yang biasa disebut dehidrasi. Dehidrasi yang tidak segera ditanggani akan menyebabkan hipovolemik dan asidosis metabolik.
Dehidrasi di sini tidak cukup hanya dengan diberikan air minum, tapi si penderita juga harus diberikan infus cairan gula (dextrose) dan garam (normal saline) atau bentuk cairan infus yang dicampur keduanya (dextrose saline).
Kolera termasuk penyakit menular. Penularannya melalui bakteri vibrio cholerae yang berkembang biak dan menyebar melalui feaces (kotoran) manusia. Jika kotoran itu mengkontaminasi air sungai yang dikonsumsi, orang itu berisiko terkena penyakit kolera.
Tidak mencuci tangan sebelum makan, mencuci sayuran atau makanan dengan air yang mengandung bakteri kolera, juga salah satu penyebab penyakit kolera.
Gejala penyakit kolera diawali dengan diare yang encer dan berlimpah tanpa disertai rasa mulas. Feaces yang semula berwarna dan berbau berubah jadi cairan putih keruh (seperti air cucian beras) tanpa bau busuk ataupun amis. Diare terjadi berulang-ulang kali disertai muntah meski tidak terasa mual.
Si penderita juga akan didera keram perut, detak jantung cepat, mulut kering, lemah fisik, mata cekung, dan saat itulah dehidrasi terjadi. Jika tidak segera ditangani, bisa menyebabkan kematian.
Penyakit kolera bisa dicegah dengan membangun sanitasi (pembuangan kotoran) yang memenuhi standar lingkungan dan menjaga kebersihan air serta masak sampai benar-benar matang air yang akan digunakan untuk minum sehari-hari.
Cuci tangan dengan sabun sebelum makan dan benda yang tercemar muntahan atau kotoran penderita harus disterilisasikan. Jangan lupa memberi vaksin kolera untuk melindungi kita jika berkontak langsung dengan penderita kolera.
Yessi Pitaloka
echink_maniez@yahoo.co.id
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !