Minggu, 27 Mei 2012 | 01:05 WIB
Follow Us: Facebook twitter
RAPBN 2009 Kelewat Optimistis
Headline
Susilo Bambang Yudhoyono - inilah.com/Subekti
Oleh: Ahmad Munjin
web - Sabtu, 16 Agustus 2008 | 07:01 WIB
INILAH.COM, Jakarta Kelewat optimistis. Itu kesan yang mencuat ketika Presiden SBY menyatakan pemerintah menetapkan target pertumbuhan ekonomi 6,2% dan tingkat inflasi 6,5% pada RAPBN 2009. Pasalnya, situasi eksternal tak mendukung.
Bukan sebuah kemustahilan, memang, target tinggi itu dicapai. Tapi, banyaik pihak menilai, sulit dan beratnya minta ampun. Apalagi, ekonomi dunia pun diperkirakan baru bisa pulih pada 2010.
Dalam hitungan normal, Kepala Riset Danareksa Purbaya Yudhi Sadewa memperkirakan, pada 2009 pertumbuhan ekonomi Indonesia ada di kisaran 5,9% dan tingkat inflasi 7,5%.
Meski begitu, Purbaya tak menampik kemungkinan target tinggi yang ditancapkan pemerintah terwujud. Hanya, syaratnya, pemerintah harus bekerja ekstra keras. Khususnya dalam merealisasikan proyek-proyek infrastruktur.
"Jika kerja pemerintah masih sama seperti dulu dan saat ini ini (realisasi investasi infrastruktur rendah), target pertumbuhan ekonomi 6,2% tak bakal tercapai," kata Purbaya di Jakarta, Jumat (15/8).
Kondisi perekonomian global yang belum akan pulih pada 2009 diperkirakan jadi penghalang utama. "Karena itu, pemerintah harus bekerja ekstra keras melalui realisasi investasi dan peningkatan pendapatan masyarakat," ujar Purbaya.
Menurut Purbaya, target inflasi 6,5% terbilang ideal dan tak terlalu sulit dicapai. "Apalagi, dampak kenaikan BBM atau biaya energi sudah berlalu. Ini bisa kondusif bagi pertumbuhan pasar modal Indonesia yang tahun ini jatuh," tambahnya.
Inflasi 6,5% mendorong penurunan suku bunga bank dan BI Rate. "Saya kira ini juga akan memicu dana masuk ke pasar modal lagi sehingga indeks saham bisa kembali seperti 2007," kata Purbaya.
Tapi, Purbaya mengingatkan, inflasi itu bisa jadi lebih tinggi dari yang ditetapkan jika pemerintah tidak serius dan tidak bekerja keras mengendalikan sektor pangan. Pemerintah harus berjibaku mengendalikan harga-harga pangan, distribusi, dan produksi.
Faisal Basri, Ketua Dewan Penasihat Indonesia Research and Strategic Analysis (ISRA), punya pandangan berbeda. Ia memprediksi pertumbuhan yang sama dengan yang ditargetkan pemerintah, yakni 6,2%.
Tren dunia pada semester II 2008 dan seterusnya memang melambat cukup signifikan, tapi ekonomi dunia punya back up, terutama dari China dan India. Dulu, jika negara-negara G8 melambat, seluruh dunia ikut melambat. Kini, dunia punya bemper, yakni China dan India.
"China dan India jadi back-up ditambah Brasil, Afrika Selatan, dan Rusia," kata Faisal. Di semester II 2008, menurutnya, Indonesia kemungkinan terkena efek perlambatan ekonomi global.
Pertumbuhan ekonomi yang kencang juga ditopang pertumbuhan ekspor. Karena negara G8 sedang didera perlambatan, ekspor Indonesia juga menurun. Ia memprediksi di semester II 2008 pertumbuhan Indonesia turun sehingga total pada 2008 jadi 5,9-6%. "Tapi, 2009 naik lagi jadi 6,2% based on scenario," tukasnya.
Profesor Norbert Walter, Chief Economist Deutsche Bank Group, memprediksi pertumbuhan Indonesia pada 2008 dan 2009 bertahan di angka 6%. Indonesia, katanya, diuntungkan dari melambungnya harga komoditas. [E1/I3]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.