Setiap tiba hari ulang tahun kemerdekaan RI, ke hadapan kita dipertontonkan rangkaian pesta akbar, mulai tingkat RT, RW, kecamatan, hingga nasional. Semua mengadakan pesta atau perlombaan akbar.
Perlombaan itu bisa bermacam-macam. Bisa lomba makan kerupuk, panjat pinang, dan lain sebagainya. Lomba-lomba itu bisa memacu kreativitas dan semangat kerja sama. Stasiun TV pun banyak menyiarkan lagu-lagu dari band-band papan atas guna menyemaraki pesta kemerdekaan RI.
Begitu akbarnya pesta yang dihiasi bermacam perlombaan dan itu seharusnya jadi momentum bagi kita untuk menuju kemerdekaan sesungguhnya. Banyak orang mengatakan bahwa kita sudah merdeka. Tugas kita adalah mempertahankannya.
Pernyataan itu sedikit lucu karena tidak sepenuhnya benar. Kemerdekaan dari beban makna katanya berarti bebas dari penjajahan, baik fisik, budaya, sosial politik, dan atas sumber daya alam.
Dulu, dengan diproklamasikannya kemerdekaan, kita memperoleh kemerdekaan secara de facto dan mendapat pengakuan dari negara-negara lain di dunia. Tapi, untuk manifestasi kemerdekaan itu sendiri, yang sesuai dengan beban maknanya, belum kita peroleh. Itu terbukti ketika Piagam Jakarta batal akibat intervensi politik asing.
Sekarang justru makin parah. Kita kian jauh dari konteks kemerdekaan. Kekerasan fisik masih sering menimpa para TKI kita di luar negeri. Berita tentang kekerasan dalam rumah tangga dan terhadap anak pun acap kali mewarnai media massa.
Tanpa pikir panjang, biasanya sesuatu yang berasal dari luar selalu dianggap hebat oleh sebagian masyarakat kita. Mereka akan meniru gaya artis Hollywood idola mereka, mulai gaya berpakaian, gaya bicara, sampai gaya hidup. Tak heran jika barang impor di negara ini laku keras dan barang lokal cenderung tidak laku karena dianggap ketinggalan zaman alias berkesan wong deso.
Naiknya harga BBM merupakan bukti nyata bahwa dari segi sosial politik kita masih terjajah. Secara logika, dengan banyaknya tambang minyak mentah di negeri kita yang termasuk sebagai salah satu negara produsen minyak (OPEC), seharusnya kenaikan harga minyak mentah dunia justru membuat kita panen keuntungan yang sangat besar.
Faktanya? Yang terjadi malah sebaliknya. Kita malah dibelit krisis. Makin banyak masyarakat yang jatuh miskin, perusahaan yang gulung tikar, atau pindah profesi akibat makin tingginya biaya hidup dan biaya produksi.
Dari kalangan usaha mengaku menderita kerugian terimbas kenaikan BBM, baik itu pelaku usaha kecil, menengah, maupun atas. Pasalnya, biaya produksi, transportasi, dan distribusi meningkat. Mereka (para pelaku usaha) terpaksa menaikkan harga jual produknya, sedangkan kondisi finansial masyarakat tengah terpuruk.
Hal itu jadi lengkap saat terjadinya pemadaman listrik bergiliran tempo hari. Pelaku usaha warnet (kalangan menengah) misalnya, seperti dituturkan Ketua Asosiasi Penyedia Internet Indonesia (APII) Sylvia Sumarlin, didera kerugian sampai Rp 10 juta per hari.
Begitu pun para pelaku usaha kalangan atas. Ketua Komite Tetap Moneter dan Fiskal Kadin Indonesia Bambang Soesatyo mengaku kerugian pengusaha industri di Indonesia akibat dari pemadaman listrik bergiliran mencapai 15% dari total omset.
Undang-undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang pemberian kemudahan dan keleluasaan bagi Corporate swasta/asing untuk melakukan kegiatan eksplorasi, eksploitasi, hingga perdagangan minyak secara terbuka merupakan bukti dari ketidakberdayaan pemerintah terhadap pihak asing. Juga jadi penyebab mengapa kita tidak kunjung bisa menikmati hasil alam subur berupa berseraknya ladang minyak. Ini membuktikan bahwa sumber daya alam kita masih terjajah alias belum merdeka sepenuhnya.
Bentuk ketidakberdayaan kita terhadap pihak asing lainnya adalah seperti dikatakan mantan Ketua MPR Amien Rais saat acara bedah bukunya yang berjudul Agenda Mendesak Bangsa Selamatkan Indonesia di auditorium Universitas Muhammadiyah, Ponorogo, tempo hari. Ia mengatakan, ada 44 BUMN yang akan dijual ke pihak asing (Kompas, 2 Agustus 2008).
Dari semua kenyataan terkait kondisi negara kita saat ini, cukup geli juga jika ada yang mengatakan kita harus tetap mempertahankan kemerdekaan. Pasalnya, jika kondisi seperti ini terus kita pertahankan yang dikatakan merdeka bukan kemerdekaan yang kita nikmati, melainkan penjajahan yang terus berseri.
Jadi, seharusnya bukan mempertahankan kemerdekaan, melainkan mari kita segera menuju kemerdekaan yang hakiki dengan memanfaatkan momentum dari semangat kemerdekaan di hari ulang tahun kemerdekaan Tanah Air tercinta. Dirgahayu Indonesiaku!
Rangga L Tobing
rangga.tobing@gmail.com
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !