inovasi portal berita
Sabtu, 11 Februari 2012 Follow: Facebook twitter Dollar Kurs BI: 1 US Dollar = Rp.8,993.00   Mobile Mobile   Newsletter Newsletter   RSS RSS
Cara Musisi Syukuri Kemerdekaan RI (1)

Nasionalisme dari Bahasa Musik

Headline
Oleh: Babyrock
Minggu, 17 Agustus 2008 | 10:01 WIB
INILAH.COM, Jakarta - Perayaan 63 tahun Hari Kemerdekaan RI terbilang sangat istimewa karena juga menjadi salah satu penanda peringatan 100 tahun Kebangkitan Nasional. Bagaimana kaitannya dengan dunia musik di Tanah Air?

Di tengah derasnya arus globalisasi, westernisasi, dan industrialisasi, boleh jadi meniupkan kembali napas nasionalisme yang tengah tersengal melalui bahasa musik, salah satu cara terbaik. Meski tidak mudah, beberapa musisi kerap menyuarakan persoalan nasionalisme, cinta Tanah Air, ataupun rasa kebangsaan dalam karya-karya mereka.
Tentu, bukan sekadar gagah-gagahan. Sikap mereka adalah wujud kepedulian sebagai generasi muda, generasi penerus bangsa ini. "Namun, karena kita musisi, ya kita memang menuangkan rasa nasionalisme melalui lagu," ujar Earnes, gitaris Cokelat.
Grup band Cokelat, sejak membawakan lagu Bendera karya Eross Chandra, memang lekat dengan imej band nasionalis. Mereka kerap membawakan lagu-lagu bernuansa patriotisme, seperti Suara Kemenangan yang termuat dalam album terbaru mereka, Panca Indera.

"Kita berani bergaya nasionalis karena kita musisi yang hanya bisa mengungkapkan rasa nasionalisme itu lewat lagu. Sejauh ini, kita pikir cukup berhasil mengusung itu. Terbukti setiap kita manggung, banyak orang yang nonton membawa bendera Merah Putih. Jadi menurut saya, kalau mau membangkitkan rasa nasionalisme, kenapa tidak melalui lagu saja. Dan itu memang harus dimulai dari anak mudanya," ungkap Edwin, gitaris Cokelat.

Hal senada diungkapkan oleh Udhi, pemain bas kelompok musik asal Bandung, Pure Saturday. Kelompok ini mempopulerkan gerakan indie (independent) dalam bermusik bersama Pas Band, Puppen, Koil, dan lainnya.

Tak ada maksud Pure Saturday menggurui. Mereka hanya ingin menyampaikan pesan positif kepada para anak muda, minimal mereka yang menjadi penggemar kelompok musik tersebut.

"Memang bukan nasionalisme an sich, tetapi pesan menjaga lingkungan, juga salah satu bentuk nasionalisme kami," ungkap Udhi usai manggung di konser musik 'Nggak Ada Lo, Nggak Hijau' di Lapangan Tegalega, Bandung, beberapa waktu lalu.

Yang jelas, pada album kedua Pure Saturday, Utopia (1999) mereka banyak menyuarakan persoalan kebangsaan sebagai wujud dari rasa nasionalisme yang mereka punyai. "Maklum, saat itu keadaan Indonesia sedang bobrok-bobroknya. Kita merasa prihatin saat itu melihat bangsa ini," ujar Ade, pemain bas, Pure Saturday.

Lagu Kacang yang termuat dalam album itu, misalnya, banyak menggambarkan kegelisahan mereka melihat keadaan bangsa yang saat itu amburadul. "Melalui lagu itu, kami mempertanyakan apakah bangsa ini akan diteruskan atau dihancurkan saja sekalian," ungkap Ade.

Ade mengakui memang tidak mudah di era seperti sekarang ini menyampaikan pesan nasionalisme kepada anak muda. "Memang tidak mudah, tetapi harus tetap dilakukan," ujarnya.

Sementara itu, Dwiki Dharmawan pernah mengungkapkan sebagai musisi, selama ini selalu berusaha memberikan karya terbaik untuk Ibu Pertiwi. Sebab, sebagai seorang putra bangsa, dia merasa terpanggil untuk mempersembahkan karya seni musik yang membanggakan bangsanya di mata dunia.

"Apalagi citra bangsa Indonesia kini tengah terpuruk di mata negara-negara lain di dunia. Jadi kita wajib menunjukkan pada mereka bahwa bangsa Indonesia mampu berprestasi lebih baik. Itu bentuk nasionalisme saya," kata anggota grup musik Krakatau itu.

Menurut suami penyanyi Ita Purnamasari ini, untuk mengembalikan citra bangsa yang terpuruk, masyarakat Indonesia harus menggalakkan semangat nasionalisme mereka.

Ia mengatakan, akhir-akhir ini ada kecenderungan semangat nasionalisme terutama di kalangan generasi muda makin merosot karena perkembangan zaman.
"Mereka lebih senang mengenakan atribut yang berbau luar negeri daripada memasang bendera Merah Putih atau Burung Garuda," katanya.

Menurut dia, salah satu cara yang dapat dilakukan untuk membangkitkan semangat nasionalisme genarasi muda di antaranya dengan menyanyikan lagu-lagu kebangsaan dalam berbagai acara dan kesempatan. "Saya menekankan untuk menggalakkan nasionalisme melalui lagu-lagu kebangsaan, misalnya Dari Sabang Sampai Merauke, Hari Merdeka dan sebagainya," katanya.

Namun, agar anak muda tertarik untuk mendengarkannya, memang musiknya harus diberi warna sekarang. "Dan itu sudah dilakukan banyak band seperti Cokelat atau Padi. Dan terbukti, lagu-lagu kebangsaan dengan aransemen baru memang lebih diterima anak-anak muda," ungkapnya. [Bersambung/L1]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA TERKINI
BERITA POPULER
RSS| Layanan Mobile| Tentang Kami| Disclaimer| Kontak Kami| Karir| Newsletter
Copyright 2008 - 2012 inilah.com, All rights reserved inilah.com.