INILAH.COM, Jakarta Naik karena minyak, turun juga karena minyak. Ketika harga 'emas hitam' drop, harga berbagai komoditas pertambangan dan perkebunan ikut menukik. Begitu pula sebaliknya. Itu yang belakangan terjadi di BEI.
Akibat selanjutnya jelas. Harga saham di sektor pertambangan dan perkebunan terus merosot tanpa bisa ditahan lagi. Semua itu adalah dampak susulan dari aksi buang barang yang dilakukan investor.
Lihat saja, pergerakan harga efek Bumi Resources (BUMI). Hanya dalam waktu dua pekan, terhitung sejak awal Agustus, harganya menurun hingga 25%.
Nasib serupa dialami rekannya, PT Batubara Bukit Asam (PTBA). Setelah sedikit menguat, pada perdagangan Jumat (15/8) ditutup menurun hingga 6,5%.
Saham komoditas lain seperti yang diterbitkan produsen CPO, misalnya, bernasib sama. Harga efek Astra Agro Lestari (AALI) menurun 24% sejak awal Agustus.
Kenyataan itulah yang membuat indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) terus menurun. Bahkan, dalam sepekan, penurunannya mencapai lebih dari 110 poin. Maklum, saham sektor tambang dan kebun memberikan kontribusi 40% terhadap indeks.
Biasanya, jika baru terjadi koreksi besar-besaran, kalangan analis selalu memberikan rekomendasi buy. Apalagi, saham kedua sektor itu adalah jawara yang kerap memberikan gain menawan. Tapi, kali ini, rekomendasi seperti itu tidak muncul.
Itu disebabkan adanya keraguan dalam memprediksikan harga minyak di har-hari mendatang. Jika harga si 'emas hitam' menurun lagi, dipastikan harga saham-saham tambang dan kebun ikut merosot. "Jika beli sekarang kan bisa rugi," kata seorang analis.
Meski begitu, seorang kepala riset di sebuah perusahaan sekuritas asing punya pandangan berbeda. Menurutnya, lantaran koreksi sudah cukup dalam, sebaiknya investor melakukan aksi beli saat ini. Pertimbangannya, kalaupun turun lagi, tidak akan sedalam yang sudah terjadi.
Jadi, jika beli sekarang, risiko kerugiannya tidak bakal terlalu besar. "Untuk jangka panjang, saham-saham pertambangan punya potensi menguat. Jika dikoleksi sekarang pun tak bakal tekor," katanya.
Sang kepala riset itu memprediksi, dalam jangka maksimal enam bulan, harga efek di kedua sektor itu bakal mampu memberikan gain minimal 15%.
Selain pertambangan dan perkebunan, saham perbankan juga layak dipertimbangkan sebagai pilihan kedua. Maklum, kendati membukukan keuntungan spektakuler pada semester I 2008, bisnis perbankan kini dihantui tingginya tingkat suku bunga akibat inflasi.
"Tapi, kesempatan penguatan di sektor perbankan masih terbuka," kata analis lain. Ia pun kemudian merekomendasikan BMRI, BBCA, BDMN dan BBRI untuk dikoleksi saat BEI kembali beroperasi mulai Selasa (19/8).
Target harganya?
"Pokoknya, jika Anda sudah mendapat gain lebih besar dari bunga deposito, segera jual kembali saham-saham perbankan itu," kata sang analis.
Nah, selamat berinvestasi! [I3]